jump to navigation

DUL n bram Januari 2, 2012

Posted by adiwidia in Uncategorized.
Tags:
trackback

Sore ini,  Dul bersiap berangkat menuju rumah Bram. Dengan rambut klimis yang berminyak orang aring dan baju batik terbaiknya,  Dul merasa cukup meyakinkan untuk menghadap  Bram. Senyum mengembang di bibir  Dul yang hitam. Tangan kanannya mengapit map berwarna merah yang berisi proposal pembangunan musholla di kampungnya. ‘Pasti gol,’ pikir Pak Dul sambil meletakkan map di dalam jok sepeda motornya.

Keyakinan itu timbul karena  Bram dulu adalah teman kuliahnya. Cuma rejekinya saja yang tidak sama. Bram sekarang telah menjadi anggota dewan, sedangkan Dul hanyalah guru di madrasah yang ada di desanya. Sewaktu rapat panitia pembangunan masjid, Dul dengan percaya diri akan meminta sumbangan dari temannya yang bernama Bram. Sebab, ia mendengar jika para anggota dewan yang terhormat mendapatkan dana aspirasi yang diperuntukkan bagi kegiatan pembangunan masyarakat.

Seusai Maghrib, Dul sudah sampai di depan rumah Bram. Dul diterima dengan baik oleh Bram. Mereka berdua pun terlibat percakapan basa-basi.

“Bram, mushollaku mau merenovasi. Tujuanku mau mengajukan sumbangan,” akhirnya Dul menyampaikan maksud kedatangannya dengan menjulurkan proposalnya.

Bram menerima dan membuka-buka  proposal yang dibawa Dul. Dul memperhatikan perilaku temannya yang sedang membaca proposal yang ia bawa. Hati kecilnya berkata bahwa  ia akan membawa dana untuk pembangunan musholla di kampungnya. Bukankah Bram dulu pernah ia tolong saat pemilihan calon legisaltif. Sebentar lagi, musholla kampungnya yang telah tua dan reot itu akan berdiri tegak dengan konstruksi beton, pikir Dul sambil menyeruput kopi.

Bram mengambil handphone dari saku bajunya.

“Hallo, Nas!” kata Bram dengan tangan memegang proposal, “dana di sana apa masih ada?” lanjutnya.

“Hm, ya…ya….. ini ada pengajuan proposal. Mungkin ia bisa kesana segera,” Bram menganggukkan kepalanya, lanjutnya, “ oke, walaikum salam.”

“Dul,” kata Bram, “kamu bawa proposal berapa?”

“Dua,” jawab Dul.

“Oke, satu tinggal di sini. Untuk dana yang ada ditempatku sudah tak ada. Ini tadi aku telepon Anas. Kenalkan dengan Anas,” kata Bram.

Dul mengangguk.

“Kamu sekarang coba ke sana. Tadi sudah kuberitahu bahwa kamu akan kesana. Dana yang ada di Anas masih ada,” terang Dul.

“Baiklah, aku sekarang akan kesana,” kata Dul sekalian berpamitan.

“Maaf ya,” balas Bram.

Dul langsung membawa sepeda motornya menuju rumah Anas. Sesampainya di sana, Dul mendapati rumah yang sepi. Dul pun menekan bel beberapa kali, tapi tak ada jawaban dari dalam. Hampir lima belas menit Dul berdiri di depan rumah Anas. Dari arah jalan, tampak mobil carry berhenti di depan pagar rumah Anas. Orang di dalam mobil pun keluar untuk membuka pagar.

“Lho, Abdullah,” kata orang yang baru keluar dari mobil, yang ternyata Anas, lanjutnya, “sudah dari tadi?”

“Ah, tidak,” jawab Dul sambil berjabat tangan dengan Anas.

Beberapa saat kemudian, di teras rumah, setelah berbasa-basi.

“Begini Nas,” kata Dul, “maksud kedatangan saya adalah untuk meminta sumbangan untuk pembangunan musholla di tempatku. Kata Bram, aku di suruh kemari untuk mengambil dana aspirasi itu. Bukankah ia tadi menelpon kamu?”

“Apa?” tanya Anas dengan kaget, “maaf Dul, Bram tidak pernah menelponku,” lanjuntnya dengan geram.

“Aku tadi tahu ia menelponmu,”

“Oh, ya. Ini coba perikasa handphoneku,” kata Anas sambil memberikan handphonenya pada Dul.

Dul kemudian memeriksa handphone Anas, dan jelas tak ada catatan panggilan dari Bram.

“Jika kamu tak percaya, silahkan tanya pada istriku,” kata Anas.

Dul sangat tak percaya telah dipermainkan oleh Bram, orang yang pernah ia bantu semasa kuliah maupun di saat ingin memperoleh kedudukannya saat ini.

“Sudahlah Dul, jangan kecewa. Begitulah sifat manusia, selalu lupa kulitnya,” hibur Anas. “Ia memang sering begitu,” jelasnya. Anas dan teman-temannya sering di datangi orang-orang yang telah dipermainkan Bram.

Dul hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda tak percaya pada perilaku temannya.

“Kamu tadi apa meninggalkan proposal padanya?” tanya Anas.

“Ya,” jawab Dul pelan.

“Waduh,”

“Waduh kenapa Nas?” tanya Dul kaget.

“Proposalmu akan dicairkan dan uangnya tak akan diberikan padamu,” jelasnya.

“Dasar busuk!” umpat Dul.

“Apakah sekarang kamu akan kesana?” tanya Anas.

“Sudah tak sudi aku,”

“Dul, dari proposalmu aku hanya bisa memenuhi setengahnya. Tapi dananya bari bisa diambil seminggu lagi. Dan proposalmu kamu bawa lagi,” kata Anas untuk mengobati rasa kecewa Dul.

Dalam perjalanan pulang, yang dipikirkan Dul hanyalah rasa malu yang akan ia dapatkan. Saat rapat pembangunan musholla, dengan rasa bangganya ia akan mengajukan dana pada teman baiknya yang telah menjadi anggota dewan terhormat. Dan dengan keyakinan yang besar, Dul menyampaikan pada panitia lainnya bahwa pasti akan mendapatkan kucuran dana aspirasi dari teman terhormatnya itu.

Sekarang Dul bingung bagaimana menyampaikan pada warga tentang kegagalannya. Alasan apa yang harus disampaikan pada mereka.

‘Anggota dewan terhormat, cis! Perilaku tak terhormat. Najis!’ umpat Dul dalam hati.

Dulu, Dul tak percaya ada pemotongan 10-25% dana yang disumbangkan. Pemotongan itupu bukan untuk pajak, tapi masuk ke kantong sendiri dan penerimanya pun harus rela jika dana yang diterima harus ditulis nominal awal. Padahal tujuan dana aspirasi itu diberikan pada anggota dewan yang terhormat adalah agar pembangunan masyarakat agar cepat tertangani. Sekarang ia baru percaya, setelah mengalami sendiri. Dan lebih menyakitkan hatinya adalah ternyata pelakunya adalah temannya sendiri. Teman kuliahnya sendiri yang dulunya selalu ia bantu karena keterbatasannya.

Dalam hati Dul berjanji tak akan ikut mendukung para calon anggota dewan di pemilu yang akan datang. Rasa sakit hati dan malu telah menguasai hati Dul yang penyabar.

 

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: