jump to navigation

Lembaga Sosial Februari 16, 2011

Posted by adiwidia in sosiologi.
trackback

A. Hakikat dan Tipe Lembaga Sosial
Lembaga sosial terdapat dalam struktur kehidupan masyarakat. Lalu
apa yang dimaksud dengan lembaga sosial itu? Sebelum kita lebih lanjut
berbicara mengenai hakikat atau pengertian lembaga sosial itu, di sini akan
kita bicarakan terlebih dahulu pengertian lembaga. Secara sosiologis,
konsep lembaga berbeda dengan konsep yang umum digunakan. Sebuah
lembaga bukanlah sebuah bangunan, bukan sekelompok orang, dan juga
bukan sebuah organisasi. Lembaga (institution) adalah suatu sistem norma
untuk mencapai suatu tujuan atau kegiatan yang oleh masyarakat
dipandang penting, atau, secara formal sekumpulan kebiasaan dan tata
kelakuan yang berkisar pada suatu kegiatan pokok manusia. Lembaga
adalah proses-proses terstruktur (tersusun) untuk melaksanakan berbagai kegiatan tertentu.
Sebuah lembaga adalah sebuah sistem hubungan sosial yang
terorganisasi yang mengejawantahkan nilai-nilai serta prosedur umum
tertentu dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar masyarakat. Dalam definisi ini, “nilai-nilai umum” mengacu pada cita-cita dan tujuan bersama.
Dalam pengertian tersebut, “prosedur umum” adalah pola-pola perilaku
yang dibakukan dan diikuti, dan sistem hubungan adalah jaringan peran
serta status yang menjadi wahana untuk melaksanakan perilaku tersebut.
Keluarga misalnya sebuah lembaga, yakni lembaga sosial, oleh karena
keluarga mencakup seperangkat nilai umum (tentang cinta, anak-anak,
kehidupan keluarga), dan sebuah jaringan peran serta status (suami, istri, nenek, bayi, remaja, tunangan) yang membentuk sistem hubungan sosial yang menjadi wahana untuk melangsungkan kehidupan keluarga.
B. Peran dan Fungsi Lembaga Sosial
1. Lembaga Keluarga
Dalam kehidupan keluarga terdapat pekerjaan-pekerjaan yang harus dilakukan oleh setiap anggota keluarga. Pekerjaan-pekerjaan tersebut dilakukan sesuai dengan kedudukan maupun peranan masing-masing individu yang menjadi anggota keluarga. Sedangkan peranan masing-masing individu sesuai dengan kedudukan dalam keluarganya itu ditentukan berdasarkan aturanaturan maupun kaidah-kaidah yang menjadi bagian dari norma maupun pranata keluarga. Sementara adanya individu-individu yang melaksanakan pekerjaan maupun tugas-tugas dalam keluarga itu merupakan bagian dari pelaksanaan fungsi lembaga keluarga.
Secara umum fungsi lembaga keluarga dapat diartikan sebagai pekerjaan maupun tugas-tugas yang harus dilaksanakan (oleh masing-masing anggota) di dalam keluarga itu dan atau oleh keluarga itu. Fungsi lembaga keluarga ini dilakukan terutama untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia sebagai warga masyarakat.
Adapun secara sosiologis, kebutuhan dasar hidup manusia yang terpenting meliputi kebutuhan biologis, rasa aman, ekonomi, agama, dan sosial. Jadi dapatlah disimpulkan bahwa keluarga melalui aturan serta normanormanya berperan mengatur perilaku dan tindakan individu di dalam keluarga, dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup
individu tersebut sebagai anggota masyarakat keluarga.

2. Lembaga Keagamaan
Beragama merupakan cerminan orang yang beradab. Dengan
beragama seseorang dapat membedakan antara yang benar dan yang
salah. Agama adalah pedoman hidup manusia untuk mencapai
kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Pranata agama mengarahkan
manusia sesuai dengan nilai-nilai kebenaran yang sangat berguna bagi
kehidupan seseorang, sehingga pranata tersebut diharapkan dapat
menuntun seseorang menuju ke kehidupan yang hakiki di akhirat.
Jadi, agama mempunyai peranan penting dalam mengatur kehidupan manusia. Agama merupakan sistem keyakinan (religi) dan praktek dalam
masyarakat yang telah dirumuskan dan dibakukan serta dianut secara luas. Sebagai institusi yang dianut dan dikenal luas dalam masyarakat, agama merupakan institusi yang banyak ragamnya dan berva-riasi di
dalam masyarakat. Namun sebagai institusi yang terus
berkembang, agama dapat dikatakan pula sebagai general institutions dan restricted institutions. Dikatakan sebagai general institutions, oleh karena hampir dikenal oleh seluruh masyarakat di dunia. Sedangkan sebagai restricted institutions oleh karena dianut oleh masyarakat-masyarakat tertentu di dunia.
Dalam pranata (ajaran) agama sebenarnya terkandung dua macam
dimensi, yakni vertikal dan horisontal. Secara vertikal pranata agama
mengatur hubungan manusia dengan Tuhan. Dalam dimensi ini agama
mengajarkan kepada pemeluk-pemeluknya agar selalu berbakti (taat) dan menyembah kepada Tuhan. Sementara dimensi horisontal mengajarkan agar manusia selalu berbuat baik kepada sesamanya, dan makhluk hidup yang lain termasuk terhadap lingkungan. Secara umum, semua agama di dunia (Islam, Kristen, Hindu, Budha, dan lain-lain) memang mengajarkan kepada manusia untuk selalu berbuat kebajikan. Kebajikan seperti itu sangat penting bagi keteraturan perilaku masyarakat, manusia, dan agama melalui pranata-pranatanya membantu manusia untuk mentaati kebenaran dan kebajikan-kebajikan seperti itu. Misalnya, jika seseorang suka berbuat baik seperti suka menolong, gemar beribadah dan bersedekah, ramah lingkungan, dan lain-lain maka akan mendapat pahala, dan surga adalah balasannya kelak. Sebaliknya, jika seseorang gemar berbuat tidak baik atau jahat seperti suka mencuri, menipu, berbuat bohong, dan lain-lain, sementara terhadap lingkungan alam juga demikian misalnya suka menyiksa dan merusak lingkungan, maka akan mendapatkan dosa. Jika orang berbuat dosa maka balasannya adalah mendapatkan siksa atau neraka di akherat kelak.
Dengan demikian, jika pranata-pranata agama di atas dipatuhi oleh
setiap anggota masyarakat maka bukan hanya ketenangan batin yang ia dapatkan, namun secara lahiriyah akan terjadi pula ketenangan dan
keselarasan dalam masyarakat.
3. Lembaga Ekonomi
Upaya manusia untuk mencapai kesejahteraan materialnya akan
diarahkan melalui lembaga ekonomi. Lembaga ekonomi adalah sistem
norma yang mengatur kegiatan ekonomi, meliputi cara-cara berproduksi,
distribusi, dan konsumsi (pemakaian) barang dan jasa yang diperlukan
bagi setiap manusia, untuk kelangsungan hidupnya.
Berdasarkan pengertian di atas, maka kegiatan ekonomi pada garis
besarnya meliputi tiga kegiatan pokok, yakni produksi, distribusi, dan
konsumsi barang-barang dan jasa.
a. Kegiatan Produksi
Berbicara masalah ekonomi adalah berbicara persoalan pilih-memilih,
yakni bagaimana orang memilih sumber daya yang langka dan terbatas
itu untuk diproduksi. Sedangkan berbicara masalah produksi adalah
berbicara masalah cara-cara bagaimana manusia menghasilkan barangbarang dan jasa.
Kegiatan produksi tersebut biasanya sangat berkaitan erat dengan
sistem mata pencaharian penduduk yang banyak ragamnya, mulai dari
yang paling sederhana seperti berburu dan meramu makanan ( pada
masyarakat primitif), bercocok tanam sederhana (berladang), pertanian
(bersawah), peternakan, perkebunan, perdagangan sampai yang paling
modern seperti perindustrian, pertambangan, pariwisata, perhotelan,
perbankan, dan lain-lain.
b. Kegiatan Distribusi
Distribusi merupakan kegiatan menyalurkan barang-barang atau jasa
kepada pemakai, yang prosesnya antara lain meliputi :
1) Resiprositas (timbal balik), yakni pertukaran barang dan jasa yang
kira-kira sama nilainya antara kedua belah pihak.
2) Redistribusi atau pendistribusian, yaitu bentuk pertukaran barang
yang masuk ke suatu tempat misalnya pasar, toko, dan sebagainya,
dari tempat ini barang selanjutnya didistribusikan kembali.
3) Pertukaran pasar, yakni pertukaran atau perpindahan barang dari
pemilik yang satu ke pemilik yang lain. Pada prinsipnya, pasar
menentukan harga berdasarkan kekuatan penawaran dan
permintaan, dan tidak peduli di manakah transaksi itu dilakukan.
c. Kegiatan Konsumsi
Setelah melalui proses pendistribusian, maka barang-barang dan jasa
yang telah dihasilkan oleh produsen selanjutnya dipakai atau dimanfaatkan
oleh konsumen. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa kegiatan
konsumsi merupakan kegiatan masyarakat dalam rangka memakai dan
memanfaatkan barang-barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya. Namun karena barang-barang dan jasa yang terjadi di alam
ini terbatas, maka sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi diupayakan agar
manusia dapat selalu menghemat dalam pemakaiannya. Dalam
pemakaian barang-barang yang tidak dapat diperbarui (habis pakai) seperti
bensin, minyak tanah, batu bara, dan lain-lain, maka sebaiknya manusia
selalu menghematnya. Pemakaian yang terlalu berlebihan (boros) dan
semena-mena akan menyebabkan sumber daya alam tersebut akan cepat habis. Jika persediaan sumber alam (bahan-bahan tambang/galian) tersebut habis tentunya yang akan menanggung resikonya adalah seluruh umat manusia di muka bumi ini. Cobalah kalian bayangkan, bagaimana seandainya bahan-bahan tambang tersebut habis? Bagaimana kita mau bepergian? Bagaimana pabrik-pabrik beroperasi? Bagaimana jika rumah makan-rumah makan tutup Bagaimana pula jika ibu-ibu kalian di rumah juga tidak dapat memasuk oleh karena tidak ada persediaan bahan bakar berupa gas atau minyak tanah? Dengan demikian kesulitan-kesulitan hidup akan timbul di mana-mana, dan di seluruh sektor kehidupan. Itulah gambarannya jika sumber-sumber alam (bahan tambang) di dunia ini benar-benar habis atau semakin langka jumlahnya!
Di samping itu, untuk pemanfaatan sumber-sumber daya alam yang
dapat diperbarui (tidak habis pakai), juga harus demikian. Jadi meskipun
sumber-sumber daya tersebut dapat diperbarui, namun jika pemakaiannya terlalu berlebihan (boros) dan semena-mena, juga dapat mengganggu kehidupan manusia, misalnya saja merusak lingkungan. Sebagai contoh , jika ada pengusaha hutan yang tidak memperhatikan lingkungan dalam aktivitas pemanfaatan hutannya maka dapat berakibat fatal bagi lingkungan alam di sekitarnya. Misalnya, dengan menebangi hutan secara sembarangan, sehingga semua tanaman ditebang, maka akibatnya akan mudah terjadi erosi apabila musim hujan tiba. Sebab dengan kondisi yang demikian, air hujan yang sampai ke permukaan bumi tidak dapat lagi di tahan oleh hutan yang sudah gundul, dan air akan langsung jatuh ke tanah sehingga tanahpun lama-kelamaan tidak dapat menahan atau menyerap air hujan yang deras. Dengan demikian akibatnya mudah ditebak, yakni terjadi erosi tanah dan banjir khususnya di wilayah-wilayah yang lebih rendah dari hutan.
Itulah sebabnya, sesuai dengan prinsip-prinsip maupun pranata
ekonomi maka dalam pemanfaatan sumber-sumber daya alam untuk
kebutuhan manusia itu agar lebih efisien dan lebih efektif, serta tidak
merusak lingkungan alam. Dalam kaitan ini berlaku semacam hukum
ekonomi, yakni pemanfaatan atau penggunaan barang (dan termasuk jasa) harus lebih efisien, efektif, atau secara ekonomis. Di samping itu, selain pemanfaatan sumber daya secara ekonomis, juga yang ramah lingkungan (tidak merusak lingkungan alam). Jika manusia telah dapat memanfaatkan sumber-sumber daya tersebut (alam, manusia/jasa) secara lebih efisien dan efektif, serta tidak merusak lingkungan, maka akan terjadi semacam keseimbangan kehidupan di alam ini.
4. Lembaga Pendidikan
Usaha pendidikan sering ditafsirkan sebagai bimbingan yang diberikan
oleh seseorang atau sekelompok orang kepada seseorang atau sekelompok orang lain agar mencapai kedewasaan atau mencapai tingkat hidup dan penghidupan yang lebih tinggi dalam arti mental. Pada masyarakat primitif hampir tidak memiliki sistem pendidikan
dalam artian formal. Anak-anak mempelajari segala sesuatu yang perlu
mereka ketahui dengan cara menyaksikan apa saja yang sedang
berlangsung dan membantu suatu pekerjaan apabila dianggap praktis.
Cara pengajaran semacam itu merupakan bentuk yang paling mirip
dengan “lembaga pendidikan”, yang bisa ditemukan pada masyarakat
sederhana. Pengajaran semacam itu, bukanlah sebuah lembaga pendidikan, melainkan hanya merupakan sebagian dari tugas keluarga.
Sekolah mulai lahir ketika kebudayaan telah menjadi sangat kompleks,
sehingga pengetahuan yang dianggap perlu tidak mungkin lagi ditangani
dalam lingkungan keluarga, sehingga lahirlah “guru” dan “kelas” dalam
artian formal. Pada tahap itulah, yakni ketika telah terdapat orang-orang yang berspesialisasi sebagai guru dan terdapat anak-anak didik dalam kelas-kelas formal yang berlangsung di luar lingkungan keluarga, dan ketika telah ditemukan cara yang pantas untuk mendidik anak-anak
tersebut, maka dapatlah dikatakan bahwa lembaga pendidikan pada waktu itu telah lahir.
Pendidikan yang berlangsung di sekolah dan kelas-kelas formal tersebut merupakan pendidikan yang bersifat formal. Sedangkan pendidikan yang berlangsung di lingkungan keluarga dinamakan pendidikan informal. Namun ketika sekolah dan kelas-kelas formal serta
lingkungan keluarga tersebut masih belum cukup efektif dalam memenuhi
kebutuhan sebagian anak didik dalam mengembangkan mental dan
ketrampilannya, maka lahirlah bentuk lembaga pendidikan yang ketiga,
yakni yang disebut lembaga pendidikan non formal. Pendidikan non formal adalah suatu sistem pendidikan yang berlangsung dalam masyarakat, di luar keluarga dan sekolah. Berbeda dengan pendidikan keluarga maupun
sekolah, pendidikan non formal ini memberikan pelayanan berupa
pendidikan ketrampilan praktis dan sikap mental yang fungsional serta
relevan agar mereka mampu meningkatkan mutu dan taraf hidup serta
mampu berpartisipasi aktif dalam proses pembaruan dan pembangunan.
5. Lembaga Politik
Secara umum politik sering diartikan sebagai urusan pemerintahan
negara. Sedangkan pranata berarti sistem norma atau aturan-aturan yang menyangkut aktivitas masyarakat yang bersifat khusus, seperti dalam ekonomi, pendidikan, kesenian, agama, politik, dan lain-lain. Dengan demikian, pranata politik dapat diartikan sebagai sistem norma atau aturan-aturan yang menyangkut suatu aktivitas masyarakat dalam hal urusan pemerintahan negara.
Pemerintahan negara, sebagai bentuk (wujud) utama dari lembaga
yang melaksanakan pranata politik, memiliki sifat-sifat yang berbeda
dengan bentuk lembaga atau organisasi lainnya. Sifat-sifat lembaga
pemerintahan negara tersebut antara lain :
a. Sifat memaksa, yakni bahwa setiap pemerintahan negara dapat
memaksakan kehendak dan kekuasaannya, baik melalui jalur hukum,
maupun jalur kekuasaan atau kekerasan.
b. Sifat monopoli, yakni bahwa setiap pemerintahan negara menguasai
hal-hal tertentu demi tujuan negara tanpa saingan.
c. Sifat totalitas, yakni bahwa semua hal tanpa kecuali mencakup
kewenangan pemerintahan negara, misalnya semua orang harus
membayar pajak, semua orang wajib membela negara, semua orang
berdasarkan hukum, dan sebagainya.
Di samping ketiga sifat dasar (pokok) tersebut, secara umum setiap
pemerintahan negara juga memiliki empat fungsi utama bagi setiap
rakyatnya, yakni :
a. Fungsi pertahanan dan keamanan.
b. Fungsi pengaturan dan ketertiban.
c. Fungsi kesejahteraan dan kemakmuran.
d. Fungsi keadilan menurut hak dan kewajiban.
Negara merupakan wadah yang memungkinkan seseorang dapat
mengembangkan bakat dan potensinya. Negara dapat memungkinkan
rakyatnya maju berkembang serta menyelenggarakan daya cipta atau
kreativitasnya secara bebas, bahkan negara berhak memberi pembinaan
dan perlindungan. Oleh karena itu, sejauh manakah fungsi-fungsi
pemerintahan negara itu dapat terlaksana dengan baik sangat tergantung pada partisipasi politik semua warga negaranya, di samping mobilisasi sumber daya kekuatan negaranya.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: