jump to navigation

Dampak Perubahan Sosial Februari 5, 2011

Posted by adiwidia in sosiologi.
trackback

A. Saluran Perubahan Sosial Dalam Masyarakat
Saluran-saluran perubahan sosial atau avenue or channel of change, merupakan saluran-saluran yang dilalui oleh suatu proses perubahan dalam masyarakat yang pada umumnya adalah lembaga-lembaga kemasyarakatan dalam bidang pemerintahan, ekonomi, pendidikan, agama, rekreasi, dan seterusnya. Lalu apakah yang dinamakan dengan lembaga kemasyarakatan itu? Menurut Soerjono Soekanto (1982), lembaga kemasyarakatan merupakan terjemahan langsung dari istilah asing “social institution” yang berarti himpunan daripada norma-norma dari segala tingkatan yang pada suatu kebutuhan pokok di dalam kehidupan masyarakat. Sedangkan dalam praktiknya, apabila normanorma tersebut diwujudkan dalam kegiatan hubungan antar manusia, maka himpunan norma-norma tersebut akan berujud sebagai “social organization” (organisasi sosial).
Lembaga-lembaga kemasyarakatan yang biasanya menjadi titik tolak bagi perubahan sosial biasanya tergantung dari “cultural focus” masyarakat pada suatu masa tertentu. Atau lebih tepatnya sangat tergantung dari lembaga kemasyarakatan manakah yang pada saat itu menjadi pusat perhatian dari masyarakat. Sedangkan dalam praktiknya, maka hanya lembaga-lembaga kemasyarakatan yang mendapatkan penilaian tertinggi dari masyarakatlah yang biasanya akan cenderung menjadi sumber atau saluran-saluran utama bagi perubahan-perubahan sosial. Sedangkan di sisi lainnya, perubahan-perubahan pada lembaga kemasyarakatan tersebut juga akan membawa akibat pula pada lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya, oleh karena lembaga-lembaga kemasyarakatan tersebut merupakan suatu sistem yang saling terintegrasi.
Adapun apabila lembaga-lembaga kemasyarakatan sebagai suatu sistem
sosial itu digambarkan, maka coraknya adalah sebagai berikut:

Lembaga-lembaga kemasyarakatan tersebut di atas merupakan suatu struktur apabila mencakup hubungan antar lembaga-lembaga kemasyarakatan yang memiliki pola-pola tertentu dan keseimbangan tertentu. Misalnya saja, apabila ditelaah hubungan antara keluarga dengan organisasi-organisasi agama, maka jalan pikiran kita akan mengarah pada suatu kelompok sosial yang terdiri dari ayah, ibu, serta anak-anaknya yang setiap saat (waktu sholat) pergi ke masjid atau surau untuk mengerjakan sholat lima waktu misalnya. Kita ketahui bahwa masjid adalah suatu tempat untuk melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan bagi umat Islam.
Dengan demikian apabila hubungan tersebut ditinjau dari sudut aktivitas yang dilakukan kedua lembaga kemasyarakatan tersebut, maka seseorang berurusan dengan fungsinya. Sebenarnya fungsi tersebut lebih penting, karena hubungan antara unsur-unsur kebudayaan maupun masyarakatmerupakan suatu hubungan fungsionil yang sangat erat.
Contoh lain, pada tanggal 17 Agustus 1945, terjadilah Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia, di mana pertama-tama terjadi perubahan pada struktur pemerintahan, dari jajahan menjadi negara yang merdeka dan berdaulat. Hal ini menjalar ke lembaga-lembaga kemasyarakatan lainnya, misalnya dalam bidang pendidikan, tidak ada diskriminasi lagi antara golongan-golongan dalam masyarakat, sebagaimana halnya pada jaman penjajahan. Setiap orang boleh memiliki pendidikan macam apa yang disukainya. Perubahan-perubahan tersebut dengan demikian dapat berpengaruh terhadap sikap-sikap, pola-pola perikelakuan, dan nilai-nilai pada masyarakat Indonesia. Jadi, berdasarkan uraian di atas, dengan singkat dapat dikatakan bahwa saluran-saluran perubahan tersebut berfungsi agar sesuatu perubahan dikenal, diterima, diakui, serta dipergunakan oleh khalayak ramai, atau, mengalami proses institutionalization (proses pelembagaan).

B. Respon Individu dan Masyarakat terhadap perubahan Sosial
1. Terjadinya Penolakan (Penentangan-Penentangan)
2. Terjadinya Penerimaan (Penyesuaian-Penyesuaian)

C. Dampak Perubahan Sosial
1. Dampak Perubahan Sosial yang Berkaitan dengan Disorganisasi
dan Reorganisasi dalam Masyarakat
2. Dampak yang Berkaitan dengan “Cultural Lag”
Teori yang terkenal di dalam sosiologi mengenai perubahan dalam masyarakat, yakni teori cultural lag dari William F. Ogburn dalam Soekanto, 1982 : 350. Teori tersebut mulai dengan suatu kenyataan bahwa pertumbuhan kebudayaan tidak selalu sama cepatnya di dalam keseluruhannya seperti diuraikan sebelumnya, akan tetapi ada bagian yang tumbuh cepat, sedangkan ada bagian lain yang tumbuhnya lambat.
Perbedaan antara taraf kemajuan dari berbagai bagian dalam kebudayaan dari suatu masyarakat itulah yang dinamakan sebagai “cultural lag” (artinya ketinggalan kebudayaan). Juga suatu lag terjadi apabila laju perubahan dari dua unsur masyarakat atau kebudayaan (mungkin juga lebih) yang mempunyai korelasi (hubungan), tidak sebanding, sehingga unsur yang satu dapat tertinggal dari unsur-unsur lainnya. Istilah lag, sebenarnya dapat dipakai paling sedikit dalam dua pengertian. Pertama, sebagai suatu jangka waktu antara terjadinya penemuan baru dan diterimanya penemuan baru itu. Contohnya,
3. Dampak Perubahan Sosial Diakibatkan Modernisasi dan Globalisasi

D. Sikap Kritis Terhadap Perubahan Sosial Budaya
1. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) bangsa
2. Memperkuat Nasionalisme (Kesadaran Nasional)
3. Berpegang Teguh Pada Norma-norma Sosial
4. Menjunjung Nilai-nilai Budaya Bangsa

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: