jump to navigation

Sosiologi : Mobilitas Sosial Desember 31, 2009

Posted by adiwidia in sosiologi.
trackback

Sosiologi: diperuntukkan untuk warga belajar “Adiwidia”

BAB III

MOBILITAS SOSIAL

 

A.     Pengertian Mobilitas Sosial

Di dalam bahasa Indonesia, mobilitas berarti gerak (KBBI : 2001). Oleh karena itu, mobilitas sosial (social mobility) adalah suatu gerak dalam struktur sosial (social structure). Dengan kata lain, mobilitas sosial dapat diartikan sebagai gerak perpindahan dari suatu status sosial ke status sosial yang lain. Oleh karena itu, mobilitas sosial disebut juga sebagai proses perpindahan sosial atau gerak sosial.

 

B.     Jenis-Jenis Mobilitas Sosial

Secara teoretis, semua manusia dapat dianggap sederajat. Akan tetapi, dalam kenyataannya terdapat kelompok-kelompok sosial yang berlaku universal dan menjadi bagian dari sistem sosial. Lapisan sosial tersebut dapat bersifat tertutup (closed social stratification) maupun terbuka (open social stratification). Stratifikasi sosial tertutup membatasi kemungkinan pindahnya seseorang dari satu lapisan ke lapisan sosial yang lain. Sebaliknya, dalam sistem yang terbuka, setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan berusaha dengan kecakapan sendiri untuk naik ke lapisan lain yang lebih tinggi, atau sebaliknya jatuh dari lapisan atas ke lapisan bawah. Lapisan sosial terbuka inilah yang memungkinkan terjadinya proses mobilitas sosial dalam masyarakat. Secara prinsipiil, terdapat tiga jenis mobilitas sosial, yaitu:

  1. Mobilitas Sosial Horizontal

Mobilitas sosial horizontal diartikan sebagai suatu peralihan individu atau objek-objek sosial lain dari kelompok sosial satu ke kelompok sosial lain yang masih sederajat. Adanya gerak sosial horizontal, tidak menyebabkan terjadinya perubahan dalam derajat kedudukan seseorang ataupun suatu objek sosial. Misalnya, seseorang yang beralih kewarganegaraan, beralih pekerjaan yang sifatnya sederajat (dari tukang kayu menjadi tukang batu atau dari pengusaha tekstil menjadi pengusaha batik), melakukan transmigrasi, dan lain-lain. Dengan gejala sosial seperti itu, meskipun berpindah tempat atau beralih pekerjaan, kedudukan seseorang tetap setara dengan kedudukan sebelumnya.

    2. Mobilitas Sosial Vertikal

Mobilitas sosial vertical merupakan perpindahan individu atau objek sosial dari satu kedudukan ke kedudukan lain yang sifatnya tidak sederajat. Dalam sosiologi dikenal dua bentuk mobilitas sosial berdasarkan arahnya, yaitu social climbing dan social sinking.

a. Social Climbing (Mobilitas Sosial Vertikal Naik)

Mobilitas ini berlangsung manakala terjadi peningkatan kedudukan sosial seseorang dalam masyarakat. Contoh hampir dua puluh tahun Pak Joko bekerja di sebuah perusahaan sepatu. Oleh karena prestasi dan hasil kerja yang bagus, Pak Joko diangkat menjadi kepala bagian. Mobilitas vertikal naik mempunyai dua bentuk utama, yaitu:

(1) Masuknya orang-orang berstatus sosial rendah ke dalam lapisan sosial yang lebih tinggi. Misalnya, seorang pegawai biasa dinaikkan kedudukannya untuk mengisi jabatan manajer yang kosong.

(2)  Terbentuknya suatu lapisan sosial baru yang lebih tinggi. Misalnya, sejumlah tukang becak sepakat membentuk suatu perkumpulan dan mereka menunjuk salah satu rekan mereka untuk menjadi ketua.

b. Social Sinking (Mobilitas Sosial Vertikal Menurun)

Berbeda dengan gerak sosial vertikal naik, gerak sosial vertikal menurun ini berlangsung manakala terjadi perpindahan kedudukan sosial seseorang atau kelompok masyarakat dari lapisan sosial tinggi ke lapisan sosial yang lebih rendah. Contoh, Pak Heru adalah seorang kepala sekolah di salah satu sekolah menengah umum di daerahnya. Oleh karena melakukan kesalahan, maka jabatan Pak Heru diturunkan menjadi guru biasa. Mobilitas vertikal menurun mempunyai dua bentuk utama, yaitu:

(1)    Turunnya kedudukan individu ke kedudukan yang derajatnya lebih rendah, misalnya seorang juragan tekstil mendadak menjadi pengangguran karena pabrik tekstil yang telah dimilikinya bertahun-tahun hangus terbakar.

(2)    Tidak dihargainya lagi suatu kedudukan sebagai lapisan sosial atas. Misalnya, perkembangan yang semakin maju menjadikan gelar bangsawan seseorang tidak dipergunakan sebagai salah satu kriteria dalam strata sosial.

Sistem mobilitas sosial vertikal yang bersifat terbuka, memungkinkan seseorang untuk mencapai kedudukan sosial tertentu dalam masyarakat. Hal ini tergantung pada usaha dan kemampuan individu yang bersangkutan. Memang benar apabila ada anggapan bahwa anak seorang pengusaha memiliki peluang yang lebih baik dan lebih besar daripada anak seorang karyawan biasa. Akan tetapi, kebudayaan dalam masyarakat tidak menutup kemungkinan bagi anak karyawan tersebut untuk memperoleh kedudukan yang lebih tinggi daripada kedudukan semula Bahkan, sifat terbuka dalam lapisan sosial dapat mendorong dirinya untuk mencapai kedudukan yang lebih tinggi dan lebih terpandang dalam masyarakat.

 

3. Mobilitas Sosial Antargenerasi

Mobilitas sosial antargenerasi ditandai oleh perkembangan atau peningkatan taraf hidup dalam suatu garis keturunan. Mobilitas seperti ini bukan menunjuk pada perkembangan keturunan itu sendiri, melainkan kenaikan kedudukan (status sosial) dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dengan kata lain, mobilitas sosial antargenerasi yaitu perpindahan kedudukan seseorang/anggota masyarakat yang terjadi antara dua generasi atau lebih. Contoh: generasi orang tua (ayah ibu) dengan generasi anak.

Mobilitas antargenerasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu mobilitas sosial intergenerasi dan mobilitas intragenerasi.

a. Mobilitas Sosial Intergenerasi

Mobilitas sosial intergenerasi adalah perpindahan kedudukan sosial yang terjadi di antara beberapa generasi dalam satu garis keturunan. Mobilitas ini dibedakan menjadi dua, yaitu mobilitas sosial intergenerasi naik dan mobilitas sosial intergenerasi turun.

 

b. Mobilitas Sosial Intragenerasi

Mobilitas sosial intragenerasi adalah perpindahan kedudukan sosial seseorang atau anggota masyarakat yang terjadi dalam satu generasi yang sama. Mobilitas intragenerasi terbagi menjadi dua bentuk umum, yaitu mobilitas intragenerasi naik dan intragenerasi turun.

Mobilitas intragenerasi naik terjadi manakala dalam satu generasi yang sama terjadi kenaikan status sosial. Misalnya, seorang petani memiliki tiga orang anak yang memiliki pekerjaan sebagai berikut. Anak ke-1 bekerja sebagai petani, anak ke-2 bekerja sebagai pedagang, sedangkan anak ke-3 bekerja sebagai wirausahawan yang sukses. Karena tingkat ekonominya lebih baik, maka anak ke-3 tersebut mampu memberi modal kepada kedua kakaknya untuk membuka usaha tertentu. Mereka berdua akhirnya mampu meningkatkan taraf kehidupan masing-masing

 

C.     Proses Mobilitas Sosial

1. Proses Terjadinya Mobilitas Sosial

Terjadinya mobilitas sosial berkaitan erat dengan hal-hal yang dianggap berharga di masyarakat. Oleh karena itu, kepemilikan atas hal-hal tersebut akan menjadikan seseorang menempati posisi atau kedudukan yang lebih tinggi. Akibatnya, dalam masyarakat terdapat penggolongan yang mempengaruhi struktur sosial. Hal-hal tersebut antara lain kekayaan, kekuasaan, kehormatan, dan ilmu pengetahuan (Soerjono Soekanto : 1987).

a. Kekayaan

Barang siapa memiliki kekayaan paling banyak, maka orang tersebut akan termasuk dalam lapisan teratas. Kekayaan dapat dilihat dari bentuk rumah, kendaraan pribadi, cara berpakaian,dan lain-lain.

b. Kehormatan

Ukuran kehormatan, mungkin terlepas dari ukuran kekayaan atau kekuasaan. Orang yang paling disegani dan dihormati akan mendapat tempat yang teratas. Ukuran semacam ini banyak dijumpai pada masyarakat tradisional. Pada umumnya, mereka terdiri atas golongan tua atau pernah berjasa besar kepada masyarakat.

c. Kekuasaan

Barang siapa memiliki kekuasaan dan wewenang terbesar, maka ia akan menempati lapisan yang tertinggi.

d. Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan dipakai sebagai ukuran dalam pelapisan sosial oleh masyarakat yang menghargai ilmu pengetahuan. Akan tetapi, ukuran tersebut kadang-kadang menyebabkan terjadinya akibat-akibat yang negatif, karena ternyata bukan mutu ilmu pengetahuan yang kemudian dijadikan ukuran, akan tetapi gelar kesarjanaanlah yang dijadikan ukuran. Hal ini mengakibatkan muncul usaha-usaha untuk mendapatkan gelar meskipun dengan cara yang tidak halal.

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: