jump to navigation

Bahasa Indonesia Kelas XI smt 1 Oktober 3, 2009

Posted by adiwidia in Uncategorized.
Tags:
trackback

Materi Bahasa Indonesia kelas XI Smt 1

1.1 Membaca Intensif

Teks meliputi sejumlah paragraf. Paragraf-paragraf tersebut memiliki gagasan pokok yang didukung gagasan-gagasan pendukung. Jenis paragraf yang gagasan pokoknya terletak di akhir paragraf disebut induktif. Jenis paragraf yang gagasan pokoknya terletak di awal paragraf disebut deduktif. Pada bab ini Anda akan mempelajari kedua jenis paragraf tersebut.

1.1.1 Menemukan Gagasan Utama Melalui Membaca Intensif

Sebuah paragraf memiliki satu kalimat topik dan beberapa kalimat penjelas. Kalimat topik berisi gagasan utama dan kalimat penjelas berisi gagasan penjelas.

Bacalah teks berikut ini dengan saksama dan temukan gagasan utamanya!

Max Havelaar dari Bantul

Miroto dan seniman Yogya mementaskan Ketoprak Gempa. Bersatu karena musibah gempa.

Sederet properti terpajang di panggung. Sepasang kursi demang, tenda, dan gapura dengan tongkat-tongkat ramping, juga lampu-lampu yang tak menyorot secara datar seperti dalam pertunjukan ketoprak. Dekorasi panggung itu lebih lumrah untuk pementasan teater modern daripada ketoprak.

Di panggung juga tak ada tari tradisional seperti gambyong.Yang muncul adalah sebuah koreografi tari ciptaan Miroto. Perang salto yang biasanya muncul dalam ketoprak tradisional pun digantikan oleh gerak penari secara kolosal.

Ya, inilah Ketoprak Gempa garapan Forum Seniman Gumregah. Modelnya tetap ketoprak tradisional Mataraman. Ada pelawak, ada tokoh bupati atau demang, juga ada penari. Hanya, kemasan panggung, tata lampu, dan tarinya tak mengikuti pakem.

“Tariannya saya cuplik dari banyak koreografi saya sebelumnya, seperti Dancing Shadow dan dari film Opera Jawa,” tutur Miroto, yang menjadi produser pertunjukan ini. “Saya kira ini tafsir baru seni tradisi ketoprak,” ucapnya.

Lakon ketoprak ini diambil dari buku Max Havelaar karya Multatuli (1859) yang mengambil latar belakang masyarakat Lebak, Banten Selatan. Saijah dan Adinda tokohnya. Mereka ingin hidup aman dan tenteram. Tapi harapan itu tak pernah kesampaian. Tindakan sewenang-wenang penguasa dan anak buahnya menghapus impian itu. Dua sejoli ini akhirnya mati oleh keserakahan dan kesewenang-wenangan.

Tawa lepas sekitar 500 penonton di Gedung Societet Yogyakarta, pekan lalu, muncul setelah pelawak Marwoto Kawer dan Susilo Nugroho (pendiri Teater Gandrik), juga Yani Sapto Hoedojo, yang menjadi Nyonya Belanda dari Banyumas, menghidupkan panggung. Selain mereka, ada pula pemain ketoprak kawakan, Widayat, yang berperan sebagai bupati. Juga Sundari, sang istri, yang luwes dan kenes.

Marwoto dan Susilo memerankan tokoh yang selalu kritis terhadap keadaan. Masing-masing memerankan Multatuli dan Max Havelaar, yang selalu bersitegang tentang siapa yang bisa mengubah hidup rakyat: penguasa atau penulis. Juga tentang bagaimana penguasa harus bersikap. “Ayo, ayo podo toh-tohan (ayo taruhan). Sing iso (yang bisa) mengubah keadaan Max Havelaar utowo Multatuli?” ucap Marwoto.

Ketoprak Gempa, yang dipentaskan di Solo dua pekan lalu, serta Yogyakarta pekan lalu, dan Jakarta pekan ini, terbentuk secara tak sengaja. Sebagian besar pemain dan pengrawit adalah korban bencana gempa. Rumah mereka roboh. Bahkan sampai kini masih ada yang hidup di tenda. Tapi mereka segera bangkit. Secara bergiliran mereka pentas berkeliling, menghibur sesama korban gempa di Bantul.

Suatu hari, Miroto mengunjungi teman-temannya itu. Melihat keadaan mereka, dia tidak tega. Dia pun berinisiatif ingin mengalihkan undangan pentas Panji Penumbra dari Kedutaan Belanda kepada mereka. Gayung bersambut, Kedutaan sepakat dan senimannya sanggup bergabung. “Saya bersyukur rumah saya masih utuh. Berkumpulnya para seniman ini wujud syukur saya,” ujarnya.

Jadilah pentas rekonsiliasi seniman di panggung ketoprak. Mereka datang dari kelompok yang berbeda, bahkan berseberangan prinsip. Mereka yang dulu sikut-sikutan, di sini berangkulan. “Saya bersyukur. Berkat gempa, semua kembali penuh canda,” tutur Bondan Nusantara, seorang pemain ketoprak.

“Dan pertunjukan mereka bagus dan sangat teatrikal,” kata budayawan Sindhunata, yang merasa terhibur oleh pertunjukan itu. LN Idayanie (Yogyakarta)

Sumber: Tempo, 25 September – 1 Oktober 2006

1.1.2 Paragraf Induktif dan Deduktif

Perhatikan kutipan teks berikut ini!

Sederet properti terpajang di panggung. Sepasang kursi demang, tenda, dan gapura dengan tongkat-tongkat ramping, juga lampu-lampu yang tak menyorot secara datar seperti dalam pertunjukan ketoprak. Dekorasi panggung itu lebih lumrah untuk pentas

teater modern daripada ketoprak.

Paragraf di atas terdiri atas 1 kalimat topik dan 2 kalimat penjelas. Kalimat (1) dan (2) adalah kalimat penjelas dan kalimat (3) adalah kalimat topik. Maka, gagasan utama paragraf di atas adalah kalimat (3). Karena gagasan utama paragraf terletak di akhir paragraf, paragraf tersebut tergolong paragraf induktif.

Perhatikan kutipan teks berikut ini!

Lakon ketoprak ini diambil dari buku Max Havelaar karya Multatuli (1859) yang mengambil latar belakang masyarakat Lebak, Banten Selatan. Saijah dan Adinda tokohnya. Mereka ingin hidup aman dan tenteram. Tapi harapan itu tak pernah kesampaian. Tindakan sewenang-wenang penguasa dan anak buahnya menghapus impian itu. Dua sejoli ini akhirnya mati oleh keserakahan dan kesewenang-wenangan.

Paragraf tersebut terdiri atas 1 kalimat topik dan 2 kalimat penjelas. Kalimat (1) adalah kalimat topik dan kalimat (2) dan (3) adalah kalimat penjelas. Maka, gagasan utama paragraf tersebut adalah kalimat (1). Karena gagasan utama paragraf terletak di awal paragraf, paragraf tersebut tergolong paragraf deduktif.

1.2 Membaca Berita

Membacakan berita dapat menjadi suatu pengalaman yang menyenangkan bagi sang pembaca dan pendengarnya jika pembacaan dilakukan dengan baik. Untuk dapat menjadi pembaca berita yang baik perlu berlatih:

1. lafal dan pengucapan yang jelas;

2. intonasi yang benar;

3. sikap yang benar.

Dalam menyampaikan berita, intonasi dapat menimbulkan bermacam arti. Keras lambatnya suara atau pengubahan nada, dan cepat lambatnya pembacaan dapat digunakan sebagai penegasan, peralihan waktu, perubahan suasana, maupun perenungan.

Dalam membacakan berita hendaknya diutamakan pelafalan yang tepat. Gerak-gerik terbatas pada gerak tangan, lengan atau ke-pala. Segala gerak tersebut lebih banyak bersifat mengisyaratkan (bernilai sugestif) dan jangan berlebihan.

Untuk menimbulkan suasana khusus yang diperlukan dalam pembacaan, suara lebih efektif dengan didukung oleh ekspresi wajah. Air muka (mimik) dan alunan suara yang pas lebih efektif untuk meningkatkan suasana. Senyum atau kerutan kening juga dapat membantu penafsiran teks. Perhatikan pula kontak pandangan Anda dengan pendengar (penonton), terutama bila membacakan berita melalui media televisi atau kontak langsung dengan pendengarnya.

Jadi, membaca berita adalah menyampaikan suatu informasi atau berita melalui membaca teks berita dengan lafal, intonasi, dan sikap secara benar.

diambil dari buku BSE : “Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA/MA Kelas XI Program IPA dan IPS”, Euis Sulastri, dkk.

Materi Bahasa Indonesia kelas XI Smt 1

(diperuntukan bagi warga belajar penyetaraan SMA “Adiwidia”)

2.1 Membaca dan Menganalisis Hikayat

Pernahkah Anda mendengar Hikayat Hang Tuah? Hikayat Hang Tuah merupakan salah satu bentuk karya sastra lama pada Angkatan Melayu Klasik. Selain hikayat, ada bentuk lain seperti cerita panji, cerita berbingkai, tambo, epos, dan dongeng (fabel, legenda, mite, sage, dan parabel).

2.1.1 Apresiasi Hikayat Hang Tuah

Hikayat Hang Tuah merupakan bentuk hikayat Melayu asli dan tidak diketahui dengan pasti siapa pengarangnya. Sikap kepahlawanan Hang Tuah yang tak tertandingi menyebabkan hikayat tersebut tetap berkembang dan hidup di masyarakat. Namanya harum dan menjadi teladan bagi putra-putri bangsa. Lama-kelamaan orang menganggapnya bukan sekadar pahlawan biasa tetapi dianggap seorang titisan dewa yang disanjung-sanjung karena kesaktiannya. Hang Tuah lahir dari keluarga biasa dekat Sungai Duyung di Tanah Malaka. Ayahnya bernama Hang Mahmud dan Ibunya Dang Merduwati. Karena kesulitan hidupnya, mereka pindah ke Pulau Bintan, tempat raja bersemayam, dengan harapan mendapat rezeki di situ. Mereka membuka warung dan hidup sangat sederhana.

Semua sahabat Hang Tuah berani. Mereka itu adalah Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu. Pernah suatu ketika mereka berlima pergi berlayar. Di tengah lautan dihadang oleh gerombolan perampok yang banyak sekali. Hang Tuah menggunakan taktik, membawa mereka ke darat. Di sana mereka melakukan perlawanan. Sepuluh perampok mereka tewaskan, sedangkan yang lain melarikan diri. Dari beberapa orang yang dapat ditawan, mereka mengaku dari daerah Siantan dan Jemaja atas perintah Gajah Mada di Majapahit. Sebenarnya mereka diperintahkan untuk menyerang Palembang tetapi angin kencang membawa mereka tersesat di Melaka. Akhirnya, keberanian Hang Tuah dan kawan-kawannya sampai juga kepada raja sehingga raja berkenan kepada mereka. Suatu ketika ada orang yang mengamuk di pasar. Orang-orang lari ketakutan. Hang Tuah jugalah yang dapat membunuh orang itu. Hang Tuah lalu diangkat menjadi biduan istana (pelayan raja). Saat itu dia diminta menyerang ke Palembang yang diduduki orang Siantan dan Jemala. Hang Tuah sukses, lalu dia diangkat menjadi Laksamana. Berkali-kali Hang Tuah diutus ke luar negeri; ke Tiongkok, Rum, Majapahit, dan dia pernah pula naik haji. Akhir hayatnya, Hang Tuah berkhalwat di Tanjung Jingara.

Di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan nama Hang Tuah dan Hang Lekir diabadikan sebagai nama jalan. Hal itu merupakan wujud dari melegendanya nama mereka.

2.1.2 Hikayat Hang Tua

Bacalah kutipan Hikayat Hang Tuah berikut ini!

Hang Tua Diutus ke Majapahit

Raja Melaka mengutus Hang Tuah (Laksamana) mempersembahkan surat dan bingkisan ke hadapan raja Majapahit, mertua baginda.

Maka Laksamana pun menjunjung duli. Maka dianugerahi persalin dan emas sepuluh kati dan kain baju dua peti. Maka, Laksamana pun bermohonlah kepada Bendahara dan Temenggung, lalu berjalan keluar diiringkan oleh Hang Jebat dan Kesturi serta mengirimkan surat dan bingkisan, lalu turun ke perahu. Setelah sudah datang ke perahu, maka surat dan bingkisan itu pun disambut oleh Laksamana, lalu naik ke atas “Mendam Berahi”. Maka Laksamana pun berlayar. Beberapa lamanya berlayar itu, maka sampailah ke Tuban. Maka Rangga dan Barit seketika pun berjalan naik ke Majapahit.

Beberapa lamanya maka sampailah ke Majapahit. Maka dipersembahkan Patih Gajah Mada kepada Batara Majapahit, “Ya, Tuanku, utusan daripada anakanda Ratu Melaka datang bersamasama dengan Rangga dan Barit Ketika; Laksamana panglimanya.” Setelah Sri Batara mendengar sembah Patih Gajah Mada demikian itu, maka titah Sri Batara, “Jika demikian, segeralah Patih berlengkap.”

Maka sembah Patih Gajah Mada, “Ya Tuanku, adapun patik dengar Laksamana itu terlalu sekali beraninya, tiada berlawan pada tanah Melayu itu. Jikalau sekiranya dapat patik hendak cobakan beraninya itu.”

Maka titah Sri Batara, “Mana yang berkenan pada Patih, kerjakanlah!”

Maka Patih pun menyembah lalu keluar mengerahkan segala pegawai dan priyayi akan menyambut surat itu. Setelah sudah lengkap, maka pergilah Patih dengan segala bunyi-bunyian. Hatta maka sampailah ke Tuban. Maka Laksamana dan Hang Jebat dan Hang Kesturi pun berlengkap memakai pakaian yang indah-indah. Maka surat dan bingkisan itu pun dinaikkan oleh Laksamana ke atas gajah. Maka Laksamana dan Hang Jebat dan Hang Kesturi pun naik kuda. Maka Rangga dan Barit Ketika pun naik kuda mengiringkan Laksmana. Maka di hadapan Laksamana orang berjalan memikul pedang berikat empat bilah berhulukan emas dan tumbak pengawinanbersampakemas empat puluh bilah dan lembing bersampakkan emas bertanam pudi yang merah empat puluh rangkap. Maka segala bunyi-bunyian pun dipalu orang terlalu ramai. Maka surat dan bingkisan itu pun diarak oranglah ke Majapahit.

Hatta beberapa lamanya berjalan itu, maka sampailah. Maka Laksamana dan Hang Jebat dan Hang Kesturi pun turun dari atas kuda, berjalan di atas gajah. Maka Rangga pun berjalan serta berkata, “Mengapa maka Laksamana turun dari atas kuda itu? Baik Laksamana naik kuda!”

Maka kata Laksamana, “Hai Rangga, adapun adat segala hulubalang Melayu itu, apabila nama tuannya dibawa pada sebuah negeri itu, maka hendaklah sangat-sangat dihormatkan dan takutkan nama tuannya itu. Jikalau sesuatu peri surat nama tuannya itu, sehingga mati sudahlah; yang memberi aib itu sekali-kali tiada ia mau, dengan karena negeri Majapahit itu negeri besar.” Setelah Rangga mendengar kata Laksamana demikian itu, maka ia pun diam, lalu turun berjalan sama-sama dengan Laksamana. Maka surat dan bingkisan itu pun diarak masuk ke dalam kota, terlalu ramai orang melihat terlalu penuh sesak sepanjang jalan dan pasar. Maka kata Patih Gajah Mada pada penjurit dua ratus itu, “Hai, kamu sekalian, pergilah kamu mengamuk dihadapan utusan itu, tetapi engkau mengamuk itu jangan bersungguh-sungguh, sekadar coba kamu beraninya. Jika ia lari, gulung olehmu sekali. Jika ia bertahan, kamu sekalian menyimpang, tetapi barang orang kita, mana yang terlintang bunuh olehmu sekali, supaya main kita jangan diketahui.”

Maka penjurit dua ratus itu pun menyembah, lalu pergi ke tengah pasar. Waktu itu sedang ramai orang di pasar, melihat orang mengarak surat itu. Maka penjurit itu pun berlari-lari sambil menghunus kerisnya, lalu mengamuk di tengah pasar itu, barang yang terlintang dibunuhnya. Maka orang di pasar itu gempar, berlari-lari kesana kemari, tiada berketahuan. Maka penjurit dua ratus itu pun datanglah ke hadapan Laksamana; dan anak bayi priayi di atas kuda itu pun terkejut melihat orang mengamuk itu terlalu banyak, tiada terkembali lagi. Maka barang mana yang ditempuhnya, habis pecah. Maka segala pegawai itu pun habis lari beterjunan dari atas kudanya, lalu berlari masuk kampung orang. Maka segala orang yang memalu bunyi-bunyian itu pun terkejutlah, habis lari naik ke atas kedai, ada yang lari ke belakang Laksamana. Setelah dilihat oleh Laksamana orang gempar itu tiada berketahuan lakunya, maka segala orang yang di hadapan Laksamana itu pun habis lari. Maka prajurit yang dua ratus itu pun kelihatanlah. Dilihat orang yang mengamuk itu terlalu banyak, seperti ribut datangnya, tiada berkeputusan. Maka Laksamana pun tersenyum-senyum seraya memegang hulu keris panjangnya itu. Maka Hang Jebar, Hang Kesturi pun tersenyum-senyum, seraya memegang hulu kerisnya, berjalan dari kiri kanan Laksamana. Maka Rangga dan Barit Ketika pun terkejut, disangkanya orang yang mengamuk itu bersungguh-sungguh. Maka Rangga pun segera menghunus kerisnya, seraya berkata, “Hai Laksamana, ingatingat, karena orang yang mengamuk itu terlalu banyak.”

Maka sahut Laksamana seraya memengkis, katanya,”Cih, mengapa pula begitu, bukan orangnya yang hendak digertak-gertak itu.”

Maka Laksamana dan Hang Jebat, Hang Kesturi pun berjalanlah seorang orang Melayu pun tiada yang undur dan tiada bergerak. Maka kata Laksamana, “Hai segala tuan-tuan sekalian, seorang pun jangan kamu undur dan bergerak. Jika kamu undur, sekarang ini juga kupenggal leher kamu!”

Maka dilihat oleh Barit Ketika, orang mengamuk banyak datang seperti belalang itu, maka Barit Ketika pun segera undur ke bela-kang gajah itu. Maka prajurit yang dua ratus itu pun berbagi tiga, menyimpang ke kanan dan ke kiri dan ke hadapan Laksamana mengamuk itu, ke belakang Laksamana. Maka Laksamana pun berjalan juga di hadapan gajah itu. Maka prajurit itu pun berbalik pula dari belakang Laksamana. Maka Barit Ketika pun lari ke hadapan berdiri di belakang Laksamana itu. Maka, Laksamana pun tersenyum-senyum seraya berkata, “Cih, mengapa begitu, bukan orangnya yang hendak digertak gerantang itu.”

Maka, Laksamana dan Hang Jebat, Hang Kesturi pun berjalan juga, dengan segala orangnya dan tiada diindahkannya orang mengamuk itu. Maka Rangga, dan Barit Ketika pun heran melihat berani Laksamana dan segala Melayu-melayu itu, setelah dilihat oleh penjurit dua ratus itu, Laksamana dan segala orangnya tiada bergerak dan tiada diindahkannya lawan itu, maka prajurit itu pun mengamuk pula ke belakang Laksamana. Seketika lagi datang pula prajurit itu mengamuk ke hadapan Laksamana, barang yang terlintang dibunuhnya dengan tempik soraknya, katanya, “Bunuhlah akan segala Melayu itu,” seraya mengusir ke sana kemari barang yang terlintang dibunuhnya. Maka prajurit dua ratus itu pun bersungguh-sungguh rupanya.

Maka, sahut Laksamana, “Jika sebanyak ini prajurit Majapahit, tiada, kuindahkan; tambahkan sebanyak ini lagi, pun tiada aku takut dan tiada aku indahkan. Jikalau luka barang seorang saja akan Melayu ini, maka negeri Majapahit ini pun habislah aku binasakan, serta Patih Gajah Mada pun aku bunuh,” serta ditendangnya bumi tiga kali. Maka bumi pun bergerak-gerak. Maka, Laksamana pun memengkis pula, katanya “Cih, tahanlah bekas tanganku baik-baik.”

Maka, prajurit itu pun sekonyong-konyong lari, tiada berketahuan perginya. Maka, surat dan bingkisan itu pun sampai-lah ke peseban. Maka surat itu pun disambut oleh Raden Aria, lalu dibacanya di hadapan Sri Batara. Maka, Laksamana dan Hang Jebat, Hang Kesturi pun naik ke peseban. Maka segala bingkisan itu pun disambut oranglah. Maka, titah Sri Batara, “Hai Laksamana, kita pun hendak mengutus ke Melaka, menyuruh menyambut anak kita Ratu Malaka, karena kita pun terlalu amat rindu dendam akan anak kita. Di dalam pada itu pun yang kita harap akan membawa anak kita kedua itu ke Majapahit ini hanyalah Laksamana.”

Maka, sembah Laksamana, “Ya Tuanku, benarlah seperti titah andika Batara itu.”

Maka Batara pun memberi persalin akan Laksamana dan Hang Jebat, Hang Kesturi dengan selengkap pakaian. Maka titah Sri Batara,

“Hai Laksamana, duduklah hampir kampong Patih Gajah Mada.”

Maka sembah Laksamana, “Daulat tuanku, mana titah patik junjung.”

Maka Sri Batara pun berangkat masuk. Maka Patih Gajah Mada, dan Laksamana pun bermohonlah, lalu keluar kembali ke rumahnya. Maka akan Laksamana pun diberi tempat oleh Patih Gajah Mada hampir kampungnya.

2.2 Resensi

Anda ingin mendapatkan informasi buku terbaru? Anda tak perlu membelinya, Anda cukup membaca resensi buku. Dengan membaca resensi, Anda mendapat ulasan sebuah buku.

2.2.1 Apakah Resensi Itu

Istilah resensi berasal dari bahasa Belanda, resentie, yang berarti kupasan atau pembahasan. Jadi, resensi adalah kupasan atau pembahasan tentang buku, film, atau drama yang biasanya disiarkan melalui media massa, seperti surat kabar atau majalah. Pada Kamus Sinonim Bahasa Indonesia disebutkan bahwa resensi adalah pertimbangan, pembicaraan, atau ulasan buku. Akhir-akhir ini, resensi buku lebih dikenal dengan istilah timbangan buku.

Tujuan resensi adalah memberi informasi kepada masyarakat akan kehadiran suatu buku, apakah ada hal yang baru dan penting atau hanya sekadar mengubah buku yang sudah ada. Kelebihan dan kekurangan buku adalah objek resensi, tetapi pengungkapannya haruslah merupakan penilaian objektif dan bukan menurut selera pribadi si pembuat resensi. Umumnya, di akhir ringkasan terdapat nilai-nilai yang dapat diambil hikmahnya.

Pembuat resensi disebut resensator. Sebelum membuat resensi, resensator harus membaca buku itu terlebih dahulu. Sebaiknya, resensator memiliki pengetahuan yang memadai, terutama yang berhubungan dengan isi buku yang akan diresensi.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam penyusunan sebuah resensi.

1 . Ada data buku, meliputi nama pengarang, penerbit, tahun terbit, dan tebal buku.

2. Pendahuluannya berisi perbandingan dengan karya sebelumnya, biografi pengarang, atau hal yang berhubungan dengan tema atau isi.

3. Ada ulasan singkat terhadap buku tersebut.

4. Harus bermanfaat dan kepada siapa manfaat itu ditujukan.

2.2.2 Membaca Resensi iksi

Bacalah resensi kumpulan cerpen berikut dan cermati bagianbagiannya!

Membuka elubung Bangsa an Mela u

Judul buku : Pahlawan dan Cerita Lainya, Mozaik Melayu Modern.

Judul asli : Heroes and Other Stories

Penulis : Karim Raslan

Penerbit : Yayasan Obor Indonesia

Tahun : 2006

Tebal : 164 halaman

Kumpulan cerita pendek Karim Raslan menelanjangi kehidupan bangsawan Malaysia. Gaya bahasanya lugas, tajam, bahkan sarkastis.

Puluhan tahun ia menggenggam rahasia itu. Segala tentang dia luar biasa cerdas, tampan, lajang, dan santun kecuali, satu hal: kakinya. Satu peristiwa tragis terjadi, sesudah itu sang kaki lumpuh. Nazrin, nama lelaki itu. Ia masih 20-an tahun ketika peristiwa itu terjadi, 30 Mei 1969. Di Penang, waktu ia menemani seorang utusan perdana menteri, aksi kekerasan meletup. Tulang kakinya remuk, sedangkan sang utusan menghilang, menyelamatkan diri, meninggalkan teman yang nestapa.

Kisah bangsawan pengecut yang menjaga citra sebagai lelaki heroik ini ada dalam Para Pahlawan, cerita pendek karya sastrawan- kolumnis Malaysia, Karim Raslan. Sosok yang oleh pengamat Nirwan Arsuka bisa dibandingkan dengan Idrus, penulis Indonesia yang melukiskan zaman merdeka dengan gaya realisme dan sarkasme pada 1950-an.

Karim memang bercerita tanpa selubung. Dalam Para Pahlawan, ia membongkar rahasia di ujung cerita: Nazrin dan si bangsawan bertemu tanpa rencana melalui orang ketiga, yakni putri sang bangsawan, pengagum berat ayahnya sendiri. Dalam cerita lainnya, Tetangga Sebelah, ia menulis tentang Datin Sarina. Ia istri bangsawan yang haus kekuasaan dan (nyaris) jatuh cinta pada tetangga barunya yang rupawan. Sampai akhirnya ia menjumpai pujaannya bercinta dengan seorang banci.

Para Pahlawan adalah satu di antara kumpulan cerita pendek Karim Raslan, Pahlawan dan Cerita Lainnya (terjemahan dari Heroes and Other Stories). Antologi yang memuat delapan kisah: Yang Terkasih, Para Pahlawan, Makan Siang Tahun Baru. Di Jalan Kia Peng, Warisan, Puan Gundik, Sara dan Perkawinan, Ayo Ke Timur, dan Tetangga Sebelah.

Pahlawan dan Cerita Lainnya bercerita tentang banyak aspek kehidupan para bangsawan – semuanya menggiring ke satu titik:hipokrisi aristokrat Melayu. Sosok-sosok yang digambarkannya sering bermain golf atau polo di klub, menenteng tas Louis Vuitton sembari tangan kirinya menjepit rokok Dunhill, dan senang membanggakan gelar Datuk dan Datin. Di balik aristokrasi ada kegandrungan akan seks, uang, dan kuasa.

Karim Raslan memang memiliki ciri khas dalam karya-karyanya, tapi sayangnya ia tak begitu populer di Semenanjung Malaysia. “Tulisannya berbahasa Inggris tinggi dan tak dimengerti orang Malaysia kebanyakan,” kata Abdul Razak dari Dewan Bahasa Pustaka Malaysia. Selama ini Karim lebih dikenal sebagai kolumnis. Kumpulan tulisan kolomnya telah dibukukan menjadi Ceritalah: Malaysia in Translation yang menjadi buku laris di Malaysia. Juga Journeys Through Southeast Asia: Ceritalah 2.

“Saya menulis apa yang saya alami, lihat, dan temukan dalam riset. Saya hanya ingin jujur,” kata Karim. Karim Raslan dilahirkan pada 2 Agustus 1963 di Petaling Jaya, Kuala Lumpur, Malaysia. Ia memang bercerita di luar arus utama penulis Malaysia. Mungkin pengalamannya tinggal 16 tahun di negara ibunya (Inggris) memberi pengaruh dalam gayanya yang blak-blakan. Ia mengambil pendidikan hukum di Inggris dan menjadi pengacara berlidah setajam kritiknya di harian-harian berbahasa Cina dan Inggris di Malaysia yang rutin ditulisnya.

Sejumlah cerita pendek Karim sekarang bisa dibaca dalam Bahasa Indonesia. Yang sedikit mengganggu para pembacanya di sini adalah singkatan-singkatan Malaysia yang acap kali muncul tanpa keterangan apa pun. (Istiqomatul Hayati)

Sumber: Tempo, 25 September-Oktober 2006.

2.2.3 Menulis Resensi Buku iksi

Apakah Anda suka membeli buku-buku fiksi, seperti novel, kumpulan cerpen, atau kumpulan puisi? Tahukah Anda bahwa bukubuku itu dapat menambah uang saku Anda?

Caranya mudah sekali. Anda cukup meresensi buku-buku yang sudah Anda baca dan mengirimnya ke surat kabar atau majalah. Jika resensi dimuat, Anda akan memperoleh honor yang lumayan sehingga dapat menambah uang saku. Tetapi, Anda tidak boleh asal meresensi buku. Buku yang diresensi harus memiliki keunikan, mungkin dari segi pengarangya atau isi buku.

Di atas Anda telah membaca dan mencermati sebuah resensi terhadap buku kumpulan cerpen karya Karim Raslan. Sebelum Anda meresensi perhatikan hal-hal berikut.

1. Pahamilah isi buku dan informasi tentang penulisnya!

2. Pahamilah kekurangan dan kelemahan buku!

3. Pahamilah manfaat yang diperoleh setelah membaca buku yang Anda resensi!

diambil dari buku BSE : “Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA/MA Kelas XI Program IPA dan IPS”, Euis Sulastri, dkk

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: