jump to navigation

DUL n bram Januari 2, 2012

Posted by adiwidia in Uncategorized.
Tags:
add a comment

Sore ini,  Dul bersiap berangkat menuju rumah Bram. Dengan rambut klimis yang berminyak orang aring dan baju batik terbaiknya,  Dul merasa cukup meyakinkan untuk menghadap  Bram. Senyum mengembang di bibir  Dul yang hitam. Tangan kanannya mengapit map berwarna merah yang berisi proposal pembangunan musholla di kampungnya. ‘Pasti gol,’ pikir Pak Dul sambil meletakkan map di dalam jok sepeda motornya.

Keyakinan itu timbul karena  Bram dulu adalah teman kuliahnya. Cuma rejekinya saja yang tidak sama. Bram sekarang telah menjadi anggota dewan, sedangkan Dul hanyalah guru di madrasah yang ada di desanya. Sewaktu rapat panitia pembangunan masjid, Dul dengan percaya diri akan meminta sumbangan dari temannya yang bernama Bram. Sebab, ia mendengar jika para anggota dewan yang terhormat mendapatkan dana aspirasi yang diperuntukkan bagi kegiatan pembangunan masyarakat.

Seusai Maghrib, Dul sudah sampai di depan rumah Bram. Dul diterima dengan baik oleh Bram. Mereka berdua pun terlibat percakapan basa-basi.

“Bram, mushollaku mau merenovasi. Tujuanku mau mengajukan sumbangan,” akhirnya Dul menyampaikan maksud kedatangannya dengan menjulurkan proposalnya.

Bram menerima dan membuka-buka  proposal yang dibawa Dul. Dul memperhatikan perilaku temannya yang sedang membaca proposal yang ia bawa. Hati kecilnya berkata bahwa  ia akan membawa dana untuk pembangunan musholla di kampungnya. Bukankah Bram dulu pernah ia tolong saat pemilihan calon legisaltif. Sebentar lagi, musholla kampungnya yang telah tua dan reot itu akan berdiri tegak dengan konstruksi beton, pikir Dul sambil menyeruput kopi.

Bram mengambil handphone dari saku bajunya.

“Hallo, Nas!” kata Bram dengan tangan memegang proposal, “dana di sana apa masih ada?” lanjutnya.

“Hm, ya…ya….. ini ada pengajuan proposal. Mungkin ia bisa kesana segera,” Bram menganggukkan kepalanya, lanjutnya, “ oke, walaikum salam.”

“Dul,” kata Bram, “kamu bawa proposal berapa?”

“Dua,” jawab Dul.

“Oke, satu tinggal di sini. Untuk dana yang ada ditempatku sudah tak ada. Ini tadi aku telepon Anas. Kenalkan dengan Anas,” kata Bram.

Dul mengangguk.

“Kamu sekarang coba ke sana. Tadi sudah kuberitahu bahwa kamu akan kesana. Dana yang ada di Anas masih ada,” terang Dul.

“Baiklah, aku sekarang akan kesana,” kata Dul sekalian berpamitan.

“Maaf ya,” balas Bram.

Dul langsung membawa sepeda motornya menuju rumah Anas. Sesampainya di sana, Dul mendapati rumah yang sepi. Dul pun menekan bel beberapa kali, tapi tak ada jawaban dari dalam. Hampir lima belas menit Dul berdiri di depan rumah Anas. Dari arah jalan, tampak mobil carry berhenti di depan pagar rumah Anas. Orang di dalam mobil pun keluar untuk membuka pagar.

“Lho, Abdullah,” kata orang yang baru keluar dari mobil, yang ternyata Anas, lanjutnya, “sudah dari tadi?”

“Ah, tidak,” jawab Dul sambil berjabat tangan dengan Anas.

Beberapa saat kemudian, di teras rumah, setelah berbasa-basi.

“Begini Nas,” kata Dul, “maksud kedatangan saya adalah untuk meminta sumbangan untuk pembangunan musholla di tempatku. Kata Bram, aku di suruh kemari untuk mengambil dana aspirasi itu. Bukankah ia tadi menelpon kamu?”

“Apa?” tanya Anas dengan kaget, “maaf Dul, Bram tidak pernah menelponku,” lanjuntnya dengan geram.

“Aku tadi tahu ia menelponmu,”

“Oh, ya. Ini coba perikasa handphoneku,” kata Anas sambil memberikan handphonenya pada Dul.

Dul kemudian memeriksa handphone Anas, dan jelas tak ada catatan panggilan dari Bram.

“Jika kamu tak percaya, silahkan tanya pada istriku,” kata Anas.

Dul sangat tak percaya telah dipermainkan oleh Bram, orang yang pernah ia bantu semasa kuliah maupun di saat ingin memperoleh kedudukannya saat ini.

“Sudahlah Dul, jangan kecewa. Begitulah sifat manusia, selalu lupa kulitnya,” hibur Anas. “Ia memang sering begitu,” jelasnya. Anas dan teman-temannya sering di datangi orang-orang yang telah dipermainkan Bram.

Dul hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda tak percaya pada perilaku temannya.

“Kamu tadi apa meninggalkan proposal padanya?” tanya Anas.

“Ya,” jawab Dul pelan.

“Waduh,”

“Waduh kenapa Nas?” tanya Dul kaget.

“Proposalmu akan dicairkan dan uangnya tak akan diberikan padamu,” jelasnya.

“Dasar busuk!” umpat Dul.

“Apakah sekarang kamu akan kesana?” tanya Anas.

“Sudah tak sudi aku,”

“Dul, dari proposalmu aku hanya bisa memenuhi setengahnya. Tapi dananya bari bisa diambil seminggu lagi. Dan proposalmu kamu bawa lagi,” kata Anas untuk mengobati rasa kecewa Dul.

Dalam perjalanan pulang, yang dipikirkan Dul hanyalah rasa malu yang akan ia dapatkan. Saat rapat pembangunan musholla, dengan rasa bangganya ia akan mengajukan dana pada teman baiknya yang telah menjadi anggota dewan terhormat. Dan dengan keyakinan yang besar, Dul menyampaikan pada panitia lainnya bahwa pasti akan mendapatkan kucuran dana aspirasi dari teman terhormatnya itu.

Sekarang Dul bingung bagaimana menyampaikan pada warga tentang kegagalannya. Alasan apa yang harus disampaikan pada mereka.

‘Anggota dewan terhormat, cis! Perilaku tak terhormat. Najis!’ umpat Dul dalam hati.

Dulu, Dul tak percaya ada pemotongan 10-25% dana yang disumbangkan. Pemotongan itupu bukan untuk pajak, tapi masuk ke kantong sendiri dan penerimanya pun harus rela jika dana yang diterima harus ditulis nominal awal. Padahal tujuan dana aspirasi itu diberikan pada anggota dewan yang terhormat adalah agar pembangunan masyarakat agar cepat tertangani. Sekarang ia baru percaya, setelah mengalami sendiri. Dan lebih menyakitkan hatinya adalah ternyata pelakunya adalah temannya sendiri. Teman kuliahnya sendiri yang dulunya selalu ia bantu karena keterbatasannya.

Dalam hati Dul berjanji tak akan ikut mendukung para calon anggota dewan di pemilu yang akan datang. Rasa sakit hati dan malu telah menguasai hati Dul yang penyabar.

 

KETENAGAKERJAAN Desember 12, 2009

Posted by adiwidia in Uncategorized.
Tags:
add a comment

BAB I
KETENAGAKERJAAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI

A. KETENAGAKERJAAN
Permasalahan ketenagakerjaan di Indonesi :
1. Penduduk sebagai Sumber Daya dalam Pembangunan Ekonomi.
Penduduk dengan segala potensi yang dimilikinya dikategorikan menjadi dua, yaitu penduduk usia kerja (15 hingga 65 tahun) dan penduduk di luar usia kerja.
Penduduk usia kerja dikategorikan menjadi angkatan kerja dan bukan angkatan kerja (lebih 10 tahun). Angkatan kerja adalah penduduk berumur lima belas tahun ke atas yang selama seminggu sebelum pencacahan bekerja atau mempunyai pekerjaan, sementara tidak bekerja, dan mereka tidak bekerja tetapi mencari pekerjaan. Bekerja adalah kegiatan melakukan suatu pekerjaan dengan maksud memperoleh atau membantu memperoleh penghasilan atau keuntungan selama paling sedikit satu jam dalam seminggu secara berturut-turut dan tidak terputus. Angkatan kerja yang bekerja dikategorikan bekerja penuh apabila dalam seminggu memiliki jam kerja selama 35 jam atau lebih.
2. Kesempatan Kerja
Kesempatan kerja merupakan peluang bagi penduduk untuk melaksanakan fungsinya sebagai sumber ekonomi dalam proses produksi untuk mencapai kesejahteraan.
Kesempatan kerja adalah jumlah penduduk yang berpartisipasi dalam pembangunan dengan melakukan suatu pekerjaan dan menghasilkan pendapatan.
Kesempatan kerja meliputi kesempatan untuk bekerja, kesempatan untuk bekerja sesuai dengan pendidikan dan keterampilan, dan kesempatan untuk mengembangkan diri. Semakin banyak orang yang bekerja berarti semakin luas kesempatan kerja. Kesempatan kerja dibedakan menjadi dua golongan, yaitu
1. kesempatan kerja permanen, artinya kesempatan kerja yang memungkinkan orang bekerja secara terus-menerus sampai mereka pensiun atau tidak mampu lagi untuk bekerja;
2. kesempatan kerja temporer, artinya kesempatan kerja yang hanya memungkinkan orang bekerja dalam waktu relatif singkat, kemudian menganggur untuk menunggu kesempatan kerja baru.
3. Indikator Ketenagakerjaan
a. Rasio Ketergantungan (Dependency Ratio) adalah tingkat beban yang harus ditanggung oleh setiap penduduk yang produktif.
DR = PDUK
PUK

DR = Dependency Ratio
PDUK = Penduduk di Luar Usia Kerja
PUK = Penduduk Usia Kerja

b. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) adalah perbandingan antara
jumlah angkatan kerja dan jumlah seluruh penduduk usia kerja.
TPAK = AK
PUK

TPAK = Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja
AK = Angkatan Kerja
PUK = Penduduk Usia Kerja

c. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) adalah perbandingan antara jumlah penduduk yang sedang mencari pekerjaan dan jumlah angkatan kerja.
TPT = PT
AK
TPT = Tingkat Pengangguran Terbuka
PT = Penganggur Terbuka
AK = Angkatan Kerja
d. Tingkat Produktivitas Tenaga Kerja merupakan nilai tambah Produk Domestik Bruto (PDB) dibagi dengan jumlah penduduk yang bekerja untuk menghasilkan nilai tambah tersebut.

4. Pengangguran
Pengangguran ada dua macam, yaitu pengangguran terbuka dan pengganguran terselubung.
Penganggur terbuka (open unemployment) meliputi seluruh angkatan kerja yang mencari pekerjaan, baik yang mencari pekerjaan pertama kali maupun yang pernah bekerja sebelumnya
Penganggur terselubung (underemployment) adalah pekerja yang bekerja dengan jam kerja rendah (di bawah sepertiga jam kerja normal atau kurang dari 35 jam dalam seminggu), namun masih mau menerima pekerjaan. BPS mengkategorikan penganggur terselubung menjadi dua macam, yaitu pekerja yang memiliki jam kerja kurang dari 35 jam per minggu karena sukarela (kemauan sendiri) dan ada juga yang terpaksa.

5. Jenis Pengangguran
Pengangguran yang ada di suatu negara dapat dikelompokkan menurut faktor penyebab terjadinya, yaitu
a. pengangguran voluntair, yaitu pengangguran yang terjadi secara sukarela karena mencari pekerjaan dengan pendapatan yang lebih baik;
b. pengangguran teknologi, yaitu pengangguran yang diakibatkan oleh semakin meningkatnya penggunaan alat-alat mesin, komputerisasi, bahkan robot dalam proses produksi, yang merupakan produk teknologi, hal ini mengakibatkan penggunaan tenaga kerja menjadi berkurang;
c. pengangguran deflatoir, yaitu pengangguran yang terjadi karena menurunnya kegiatan perekonomian suatu negara sehingga permintaan masyarakat ikut menurun, hal ini mengakibatkan perusahaan mengurangi kapasitas produksinya, atau bahkan menghentikan produksinya, akibatnya terjadi pengurangan pekerja;
d. pengangguran struktural, yaitu pengangguran yang disebabkan oleh adanya perubahan pada struktur ekonomi dari suatu negara, misalnya dari struktur ekonomi pertanian ke struktur ekonomi industri, hal ini menyebabkan kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan tidak sesuai dengan tenaga kerja yang tersedia, akibatnya terjadi pengangguran.

Contoh
Akibat perekonomian beralih dari sektor pertanian ke sektor industri maka tenaga kerja yang tadinya bekerja pada sektor pertanian tidak dapat bekerja.

6. Penyebab Pengangguran
Penyebab terjadinya pengangguran di suatu negara, di antaranya adalah sebagai berikut.
a. Tekanan demografis dengan jumlah dan komposisi angkatan kerja yang besar.
b. Pertumbuhan ekonomi yang jauh lebih kecil daripada pertumbuhan angkatan kerja.
c. Jumlah lapangan kerja yang tersedia lebih kecil dari jumlah pencari kerja.
d. Kompetensi pencari kerja tidak sesuai dengan pasar kerja.
e. Terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) yang disebabkan, antara lain perusahaan yang menutup atau mengurangi bidang usahanya akibat krisis ekonomi atau keamanan yang kurang kondusif, peraturan yang menghambat investasi, hambatan dalam proses ekspor-impor, dan sebagainya.
f. Kurang efektifnya informasi pasar kerja bagi para pencari kerja.
g. Berbagai regulasi dan perilaku birokrasi yang kurang kondusif bagi pengembangan usaha.
h. Masih sulitnya arus masuk modal asing.
i. Iklim investasi yang belum kondusif.
j. Tekanan kenaikan upah di tengah dunia usaha yang masih lesu.
k. Kemiskinan.
l. Ketimpangan pendapatan.
m. Urbanisasi.
n. Stabilitas politik yang tidak stabil.
o. Perilaku proteksionis sejumlah negara maju dalam menerima ekspor dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
p. Keberadaan pasar global.

B PEMBANGUNAN EKONOMI
Pembangunan menurut Todaro (2000) bahwa pembangunan merupakan suatu proses multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur sosial, sikap-sikap masyarakat, dan institusi-institusi nasional, di samping tetap mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi, penanganan ketimpangan pendapatan, serta pengentasan kemiskinan.
Tujuan pembangunan, adalah :
a. meningkatkan ketersediaan serta perluasan distribusi berbagai macam barang kebutuhan pokok hidup, seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan;
b. meningkatkan standar hidup, yang meliputi peningkatan pendapatan, penambahan penyediaan lapangan kerja, perbaikan kualitas pendidikan, serta peningkatan perhatian atas nilai-nilai kultural dan kemanusiaan sehingga selain secara materiil meningkatkan kesejahteraan masyarakat, juga menumbuhkan jati diri sebagai pribadi dan bangsa;
c. memperluas pilihan-pilihan ekonomis dan sosial bagi setiap individu serta bangsa secara keseluruhan dengan membebaskan diri dan bangsa dari sikap menghamba dan ketergantungan terhadap orang lain atau bangsa lain.

Dengan demikian, pembangunan memiliki tiga nilai inti, yaitu
a. kecukupan, artinya kemampuan untuk memenuhi kebutuhankebutuhan dasar;
b. jati diri, artinya menjadi manusia yang seutuhnya;
c. kebebasan dari sikap menghamba, artinya kemampuan untuk menentukan pilihan sendiri.

Adapun Tujuan Pembangunan Milenium (1990-2015) adalah sebagai berikut.
a. Menghapus tingkat kemiskinan dan kelaparan Mengurangi setengah dari penduduk dunia yang berpenghasilan kurang dari 1 US$ sehari dan mengalami kelaparan.
b. Mencapai pendidikan dasar secara universal Memastikan bahwa setiap anak laki-laki dan perempuan mendapatkan dan menyelesaikan tahap pendidikan dasar.
c. Mendorong kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan Mengurangi perbedaan dan diskriminasi gender dalam pendidikan dasar dan menengah terutama untuk tahun 2005 dan untuk semua tingkatan pada tahun 2015.
d. Mengurangi tingkat kematian anak Mengurangi tingkat kematian anak-anak usia di bawah 5 tahun hingga dua pertiga.
e. Meningkatkan kesehatan ibu Mengurangi rasio kematian ibu hingga 75% dalam proses melahirkan.
f. Memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya Menghentikan dan memulai pencegahan penyebaran HIV/AIDS dan gejala malaria dan penyakit berat lainnya.
g. Menjamin keberkelanjutan lingkungan
1). Mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan dalam kebijakan setiap negara dan program serta merehabilitasi sumber daya lingkungan yang hilang.
2). Pada tahun 2015 diharapkan jumlah orang yang tidak memiliki akses air minum yang layak dikonsumsi berkurang setengahnya.
3). Pada tahun 2020 diharapkan dapat mencapai perbaikan kehidupan yang signifikan bagi sedikitnya 100 juta orang yang tinggal di daerah kumuh.
h. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan
1). Mengembangkan lebih jauh perdagangan terbuka dan sistem keuangan yang melibatkan komitmen terhadap pengaturan manajemen yang jujur dan bersih, pembangunan dan pengurangan tingkat kemiskinan secara nasional dan internasional.
2). Membantu kebutuhan-kebutuhan khusus negara-negara tertinggal, negara-negara terpencil, dan kepulauan-kepulauan kecil.
3). Secara komprehensif mengusahakan persetujuan mengenai masalah utang negara-negara berkembang.
4). Mengembangkan usaha produktif yang baik dijalankan untuk kaum muda.
5). Dalam kerja sama dengan pihak swasta, membangun penyerapan keuntungan dari teknologi-teknologi baru, terutama teknologi informasi dan komunikasi.

Indikator yang digunakan untuk mengukur pembangunan meliputi berikut ini.
a. Indikator ekonomi, di antaranya:
1. laju pertumbuhan ekonomi, yaitu proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang;
2. Produk Nasional Bruto (Gross National Income/GNI) per kapita, yaitu pendapatan nasional bruto dibagi dengan jumlah populasi penduduk.
b. Indikator sosial, di antaranya:
1. Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index/HDI), yaitu indeks komposit dari indeks harapan hidup, indeks pendidikan (indeks melek huruf dan indeks rata-rata lama sekolah), dan indeks standar hidup layak;
2. Indeks Mutu Hidup (Physical Quality Life Index/PQLI), yaitu indeks komposit (gabungan) dari tiga indikator, yaitu harapan hidup pada usia satu tahun, angka kematian, dan tingkat melek huruf.

Masalah Pokok Pembangunan
a. Kemiskinan
b. Ketimpangan dalam distribusi pendapatan
c. Pengangguran
d. Inflasi
Terjadinya kemerosotan nilai uang akibat jumlah uang yang beredar terlalu banyak sehingga memicu kenaikan harga barang-barang akan berdampak pada menurunnya pendapat riil orang-orang yang berpenghasilan tetap sehingga daya belinya ikut menurun. Penurunan daya beli masyarakat akan berdampak pada dunia usaha, karena perusahaan akan mengurangi kapasitas peroduksinya, atau bahkan menghentikan produksinya

Hambatan-hambatan dalam Pembangunan
Faktor-faktor yang menjadi penghambat dalam proses
pembangunan, antara lain sebagai berikut.
a. Perkembangan penduduk yang tinggi dengan tingkat pendidikan (pemilikan ilmu dan pengetahuan) yang rendah.
b. Perekonomian yang bersifat dualistik. Perekonomian yang bersifat dualistik merupakan hambatan bagi proses pembangunan karena menyebabkan produktivitas berbagai kegiatan produktif sangat rendah dan usaha-usaha untuk mengadakan perubahan sangat terbatas, di antaranya dualisme sosial dan dualisme teknologi.
c. Pembentukan modal yang rendah. Tingkat pembentukan modal yang rendah merupakan hambatan utama dalam pembangunan ekonomi.
d. Struktur ekspor yang didominasi ekspor bahan mentah.
e. Proses sebab akibat kumulatif. Hambatan lain dalam proses pembangunan disebabkan oleh pembangunan yang dilakukan oleh daerah yang sudah lebih maju. Keadaan-keadaan yang menghambat pembangunan ini disebut back wash effect, di antaranya:
1). perpindahan penduduk dari daerah miskin ke daerah yang lebih maju, umumnya penduduk yang pindah lebih muda dan memiliki pendidikan yang lebih baik serta etos kerja yang tinggi daripada penduduk yang tetap tinggal di daerah miskin;
2). karena kurangnya permintaan modal di daerah miskin dan modal akan lebih terjamin dan menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi di daerah yang sudah lebih maju maka modal akan lebih mengalir ke daerah yang lebih maju;
3). pola perdagangan dan kegiatan perdagangan terutama didominasi oleh industri-industri di daerah yang lebih maju, yang menyebabkan daerah miskin mengalami kesukaran dalam mengembangkan pasar hasil industrinya sehingga memperlambat perkembangan di daerah miskin;
4). jaringan transportasi dan komunikasi di daerah maju yang jauh lebih baik daripada daerah miskin menyebabkan kegiatan produksi dan perdagangannya dapat dilaksanakan lebih efektif dan efisien.

C. PERTUMBUHAN EKONOMI

Menurut Simon Kuznets, pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi bagi penduduknya. Kenaikan kapasitas itu sendiri ditentukan atau dimungkinkan oleh adanya kemajuan atau penyesuaian-penyesuaian teknologi, kelembagaan, dan ideologis terhadap berbagai tuntutan keadaan yang ada.
Dari definisi di atas berarti terdapat tiga komponen pokok dalam pertumbuhan ekonomi sebagai berikut.
a. Kenaikan output secara berkesinambungan merupakan perwujudan dari pertumbuhan ekonomi, sedangkan kemampuan menyediakan berbagai jenis barang itu sendiri merupakan tandakematangan ekonomi di suatu negara.
b. Perkembangan teknologi merupakan dasar atau prakondisi bagi berlangsungnya pertumbuhan ekonomi secara berkesinambungan.
c. Untuk mewujudkan potensi pertumbuhan yang terkandung di dalam teknologi baru, perlu diadakan serangkaian penyesuaian kelembagaan, sikap, dan ideologi. Inovasi dalam bidang teknologi harus dibarengi dengan inovasi dalam bidang sosial.

Faktor-faktor yang Memengaruhi Pertumbuhan Ekonomi
a. Faktor ekonomi, terdiri dari:
1. sumber alam;
2. akumulasi modal, yaitu semua bentuk atau jenis investasi baru yang ditanamkan pada tanah, peralatan fisik, dan modal sumber daya manusia;
3. organisasi;
4. kemajuan teknologi, teknologi merupakan cara bagaimana berbagai sumber alam, modal, tenaga kerja, dan keterampilan dikombinasikan untuk merealisasikan tujuan produksi. Ada tiga
5. macam kemajuan teknologi, yaitu kemajuan teknologi yang menghemat tenaga kerja, kemajuan teknologi yang menghemat modal, dan kemajuan teknologi yang menghemat tenaga kerja dan modal;
6. pembagian kerja;
7. skala produksi.

b. Faktor nonekonomi, terdiri dari:
1. manusia, suatu bangsa dapat mewujudkan kemajuan teknologi, termasuk ilmu pengetahuan dan manajemen, serta modal fisik seperti bangunan dan peralatan mesin-mesin hanya jika negara tersebut memiliki modal manusia yang kuat dan berkualitas. Modal manusia berperan secara signifikan, bahkan lebih penting daripada faktor teknologi dalam memacu pertumbuhan ekonomi. Modal manusia tersebut tidak hanya menyangkut kuantitas, tetapi yang jauh lebih penting adalah kualitas;
2. sosial,
3. budaya, dan
4. politik dan administratif.

D. DAMPAK PENGANGGURAN TERHADAP PELAKSANAAN PEMBANGUNAN
1. Pendapatan nasional menurun
2. Pendapatan per kapita masyarakat rendah
3. Produktivitas tenaga kerja rendah
4. Upah yang rendah
5. Investasi dan pembentukan modal rendah
6. Sumber utama kemiskinan
7. Pemborosan sumber daya dan potensi yang ada
8. Dampak sosial lainnya yang ditimbulkan oleh pengangguran sehingga akan berpengaruh terhadap pelaksanaan pembangunan nasional, antara lain:
a. menjadi beban keluarga dan masyarakat;
b. penghargaan diri yang rendah;
c. kebebasan yang terbatas;
d. mendorong peningkatan keresahan sosial dan kriminal.

Berikut beberapa cara yang ditempuh oleh pemerintah untuk mengatasi
masalah pengangguran.
1. Menciptakan kesempatan kerja, terutama di sektor pertanian melalui penciptaan iklim investasi yang lebih kondusif.
2. Menumbuhkan usaha-usaha baru, memperluas kesempatan berusaha, dan mendorong pengusaha-pengusaha memperluas usahanya atau membuka investasi baru.
3. Meningkatkan keterampilan tenaga kerja menuju profesionalisme.
4. Meningkatkan kualitas tenaga kerja sesuai dengan tuntutan dunia industri dan dunia usaha melalui perbaikan isi kurikulum sistem pendidikan nasional.
5. Untuk menumbuhkembangkan usaha mikro dan usaha kecil yang mandiri perlu keberpihakan kebijakan, termasuk akses, pendamping, pendanaan usaha kecil dan tingkat suku bunga kecil yang mendukung.
6. Pembangunan nasional dan kebijakan ekonomi makro yang bertumpu pada sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter harus mengarah pada penciptaan dan perluasan kesempatan kerja.
7. Kebijakan pemerintah pusat dengan kebijakan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota harus merupakan satu kesatuan yang saling mendukung untuk penciptaan dan perluasan kesempatan kerja.
Penempatan tenaga kerja Indonesia memiliki kompetensi dengan kualitas yang memadai di luar negeri.

BAB I STRUKTUR SOSIAL November 28, 2009

Posted by adiwidia in Uncategorized.
Tags:
add a comment

BAB I

STRUKTUR SOSIAL


A. Pengertian Struktur Sosial

Menurut Soerjono Soekanto (2002:68) struktur sosial diartikan sebagai hubungan timbal balik antarposisi sosial dan antarperan.

Dengan demikian, pengertian struktur sosial dapat didefinisikan sebagai suatu tatanan sosial dalam kehidupan masyarakat yang di dalamnya terkandung hubungan timbal balik antara status dan peranan dengan batas-batas perangkat unsur-unsur sosial yang menunjuk pada suatu keteraturan perilaku, sehingga dapat memberikan bentuk sebagai suatu masyarakat.

Hendropuspito (1989) dalam bukunya ”Sosiologi Sistematik” mendefinisikan bahwa struktur sosial adalah skema penempatan nilainilai sosiobudaya dan organ-organ masyarakat pada posisi yang dianggap sesuai dengan berfungsinya organisme masyarakat sebagai suatu keseluruhan dan demi kepentingan masing-masing. Bagian nilai-nilai sosial adalah ajaran agama, ideologi, kaidah-kaidah, moral, serta peraturan sopan santun yang dimiliki suatu masyarakat. Sementara itu organ-organ masyarakat tersebut berupa kelompokkelompok sosial, institusi atau lembaga-lembaga sosial yang mengusahakan perwujudan nilai-nilai tertentu menjadi nyata dan dipakai dalam memenuhi kebutuhan.

Pada dasarnya struktur sosial merupakan jaringan dari unsure-unsur sosial yang pokok dalam masyarakat. Unsur-unsur tersebut antara lain kelompok-kelompok sosial, kebudayaan, lembaga sosial, stratifikasi sosial, kekuasaan, dan wewenang. Secara umum wujud konkret struktur sosial masyarakat tampak jelas dalam system diferensiasi dan stratifikasi sosial yang berlaku dalam sebuah masyarakat.

B. Diferensiasi Sosial

Pada dasarnya kita hidup dalam lingkungan yang penuh dengan perbedaan. Lihatlah di sekelilingmu sekarang, kamu akan menemukan banyak perbedaan mulai agama, jenis kelamin, ras, dan lain-lain. Perbedaan-perbedaan inilah yang menyebabkan pemisahan atau pembagian dalam suatu masyarakat yang disebut diferensiasi sosial. Pada subbab ini, kita akan mempelajari tentang hal-hal yang berkaitan dengan masalah diferensiasi sosial.

1. Pengertian Diferensiasi Sosial

Masyarakat Indonesia memiliki banyak keragaman dan perbedaan. Sebagai contohnya keragaman agama, ras, etnis, pekerjaan, budaya, maupun jenis kelamin. Tidak dapat dimungkiri keragaman ini menjadi potensi pokok munculnya konflik di Indonesia.

Perbedaan-perbedaan di atas terlihat secara horizontal. Perbedaan inilah dalam sosiologi dinamakan dengan istilah diferensiasi sosial. Diferensiasi sosial berasal dari bahasa Inggris yaitu difference, yang berarti perbedaan. Secara istilah pengertian diferensiasi sosial adalah pembedaan anggota masyarakat ke dalam golongan secara horizontal, mendatar, dan sejajar atau tidak memandang perbedaan lapisan. Asumsinya adalah tidak ada golongan dari pembagian tersebut yang lebih tinggi daripada golongan lainnya.

Dengan demikian, dalam diferensiasi sosial tidak dikenal adanya tingkatan atau pelapisan, seperti pembagian kelas atas, menengah, dan bawah. Pembedaan yang ada dalam diferensiasi sosial didasarkan atas latar belakang sifat-sifat dan ciri-ciri yang tidak sama dalam masyarakat, klan, etnis, dan agama. Kesemuanya itu disebut kemajemukan sosial, sedangkan pengelompokan berdasarkan profesi dan jenis kelamin disebut heterogenitas sosial.

2. Bentuk-Bentuk Diferensiasi Sosial

a. Diferensiasi Ras

Ras (KBBI: 2001) adalah suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri fisik bawaan yang sama. Diferensiasi ras berarti mengelompokkan masyarakat berdasarkan ciri-ciri fisiknya bukan budayanya. Misalkan, bentuk muka, bentuk hidung, warna kulit, dan warna rambut. Pada dasarnya ciri fisik manusia dikelompokkan atas tiga golongan yaitu ciri fenotipe, ciri filogenetik, dan ciri getif.

Ciri fenotipe merupakan ciri-ciri yang tampak. Ciri fenotipe terdiri atas ciri kualitatif dan kuantitatif. Ciri kualitatif antara lain warna kulit, warna rambut, bentuk mata, bentuk hidung, bentuk dagu, dan bentuk bibir. Sementara itu, ciri kuantitatif antara lain tinggi badan, gerak badan, dan ukuran bentuk kepala.

Ciri filogenetik, yaitu hubungan asal usul antara ras-ras dan perkembangan. Sedangkan ciri getif yaitu ciri yang didasarkan pada keturunan darah. Menurut A.L. Kroeber (sebagaimana dikutip Arif Rohman: 2003), ras di dunia diklasifikasikan menjadi lima kelompok ras yaitu:

1) Australoid, yaitu penduduk asli Australia (Aborigin).

2) Mongoloid, yaitu penduduk asli wilayah Asia dan Amerika, meliputi:
a)Asiatic Mongoloid (Asia Utara, Asia Tengah, dan Asia Timur);

b) Malayan Mongoloid Asia Tenggara, Indonesia, Malaysia, Filipina, dan penduduk asli Taiwan);

c) American Mongoloid (penduduk asli Amerika).
3) Kaukasoid, yaitu penduduk asli wilayah Eropa, sebagian Afrika, dan Asia, antara lain:

a) Nordic (Eropa Utara, sekitar Laut Baltik);

b) Alpine (Eropa Tengah dan Eropa Timur);

c) Mediteranian (sekitar Laut Tengah, Afrika Utara, Armenia, Arab, dan Iran);

d) Indic (Pakistan, India, Bangladesh, dan Sri Lanka).

4) Negroid, yaitu penduduk asli wilayah Afrika dan sebagian Asia, antara lain:

a) African Negroid (Benua Afrika);

b) Negrito (Afrika Tengah, Semenanjung Malaya yang dikenal orang Semang, Filipina);

c) Melanesian (Irian dan Melanesia).

5) Ras-ras khusus, yaitu ras yang tidak dapat diklasifikasikan dalam keempat ras pokok, antara lain:

a) Bushman (Penduduk di daerah Gurun Kalahari, Afrika Selatan);

b) Veddoid (Penduduk di daerah pedalaman Sri Lanka dan Sulawesi Selatan);

c) Polynesian (Kepulauan Mikronesia dan Polynesia); serta

d) Ainu (Penduduk di daerah Pulau Karafuto dan Hokkaido, Jepang).

Sedangkan Ralph Linton, beliau mengklasifikasikan tiga ras utama dunia yaitu Mongoloid, Kaukasoid, dan Negroid. Mongoloid dengan ciri-ciri kulit sawo matang, rambut lurus, bulu badan sedikit, mata sipit (terutama Asia Mongoloid). Ras Mongoloid dibagi menjadi dua, yaitu Mongoloid Asia dan Indian. Mongoloid Asia terdiri atas subras Tionghoa (terdiri atas Jepang, Taiwan, dan Vietnam) serta subras Melayu. Subras Melayu terdiri atas Malaysia, Indonesia, dan Filipina. Mongoloid Indian terdiri atas orang-orang Indian di Amerika.

Kaukasoid memiliki ciri-ciri fisik hidung mancung, kulit putih, rambut pirang sampai cokelat kehitam-hitaman, dan kelopak mata lurus. Ras ini terdiri atas subras Nordic, Alpin, Mediteran, Armenoid, dan India.

Sedangkan Negroid, dengan ciri fisik rambut keriting, kulit hitam, bibir tebal, dan kelopak mata lurus. Ras ini dibagi menjadi subras Negrito, Nilitz, Negara Rimba, Negro Oseanis, dan Hotentot-Boysesman. Lantas, bagaimana dengan negara kita yang terkenal dengan keragaman suku bangsanya? Ras-ras apa sajakah yang ada di Indonesia?

Pada dasarnya, Indonesia didiami oleh bermacam-macam subras sebagai berikut.

1) Negrito, yaitu suku bangsa Semang di Semenanjung Malaya dan sekitarnya.

2) Veddoid, yaitu suku Sakai di Riau, Kubu di Sumatra Selatan, Toala dan Tomuna di Sulawesi.

3) Neo-Melanosoid, yaitu penduduk Kepulauan Kei dan Aru.

4) Melayu yang terdiri atas:

a) Melayu tua (Proto Melayu), yaitu orang Batak, Toraja, dan Dayak.

b) Melayu Muda (Deutro Melayu), yaitu orang Aceh, Minang, Bugis/Makassar, Jawa, Sunda, dan sebagainya.

b. Diferensiasi Suku Bangsa (Etnis)

Suku bangsa adalah golongan sosial yang dibedakan dari golongan-golongan sosial lainnya, karena mempunyai ciri-ciri yang paling mendasar dan umum yang berkaitan dengan asal usul, tempat asal, serta kebudayaannya. Ciri-ciri yang paling mendasar tersebut, antara lain kesamaan dalam hal ciri fisik, bahasa daerah, kesenian, dan adat istiadat.

Bagaimana dengan Indonesia? Secara garis besar suku bangsa masyarakat Indonesia diklasifikasikan sebagai berikut.

1). Suku masyarakat Pulau Sumatra antara lain Aceh, Batak, Minangkabau, Bengkulu, Jambi, Palembang, Melayu, dan sebagainya.

2). Suku masyarakat Pulau Jawa antara lain Sunda, Jawa, Tengger, dan sebagainya.

3). Suku masyarakat Pulau Kalimantan antara lain Dayak, Banjar, dan sebagainya.

4). Suku masyarakat Pulau Sulawesi antara lain Bugis, Makassar, Toraja, Minahasa, Toli-Toli, Bolang- Mongondow, dan Gorontalo.

5). Suku masyarakat di Kepulauan Nusa Tenggara antara lain Bali, Bima, Lombok, Flores, Timur, dan Rote.

6). Suku masyarakat di Kepulauan Maluku dan Irian antara lain Ternate, Tidore, Dani, dan Asmat.

Dari keterangan-keterangan di atas terlihat betapa banyaknya suku bangsa yang dimiliki oleh Indonesia. Uniknya di antara suku bangsa yang beragam, setiap suku bangsa di Indonesia memiliki dasar persamaan. Seperti persamaan kehidupan sosialnya yang berdasarkan atas asas kekeluargaan, asas-asas yang sama atas hak milik atas tanah, asas-asas yang sama dalam bentuk persekutuan masyarakat, dan asas-asas persamaan dalam hukum adat.

c. Diferensiasi Clan

Klan (clan) adalah suatu kesatuan atau kelompok kekerabatan yang didasarkan atas hubungan keturunan atau hubungan darah (genealogis) yang terdapat dalam masyarakat.

Sedangkan kekerabatan merupakan kesatuan sosial yang orang-orangnya atau anggota-anggotanya mempunyai hubungan keturunan atau hubungan darah. Seseorang dapat kita anggap sebagai kerabat kita, jika orang tersebut mempunyai hubungan darah atau seketurunan dengan kita, walaupun kita tidak pernah saling bertemu dengan orang tersebut.

Dalam sistem kekerabatan dikenal dua hubungan kekerabatan, yaitu patrilineal dan matrilineal. Dalam klan patrilineal, saudara perempuan ayah dan saudara laki-laki ayah termasuk dalam satu klan. Sedangkan anak dari saudara perempuan ego tidak termasuk anggota klan. Masyarakat yang menganut sistem patrilineal antara lain Batak, Mentawai, dan Gayo.

Sementara dalam klan matrilineal, saudara laki-laki ibu, saudara perempuan ibu, saudara laki-laki ego, dan saudara perempuan ego termasuk anggota satu klan. Tetapi anak dari saudara laki-laki ibu dan anak dari saudara laki-laki ego tidak termasuk anggota satu klan. Masyarakat yang menganut system matrilineal antara lain Minangkabau dan Enggano.

d. Diferensiasi Agama

Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan agama? Agama merupakan masalah esensial bagi kehidupan manusia. Hal ini dikarenakan menyangkut keyakinan seseorang yang dianggap benar. Keyakinan terhadap agama mengikat pemeluknya secara moral. Keyakinan itu membentuk golongan masyarakat moral atau yang disebut umat. Menurut Durkheim, agama adalah suatu sistem terpadu yang terdiri atas kepercayaan dan praktik yang berhubungan dengan hal-hal suci.

Diferensiasi agama merupakan penggolongan masyarakat berdasarkan agama atau kepercayaan. Di Indonesia dikenal agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Selain itu, berkembang pula agama atau kepercayaan lain seperti Konghucu, aliran kepercayaan, dan kepercayaan-kepercayaan lainnya. Penggolongan tersebut bersifat horizontal dan bukan berdasarkan tingkatan atau pelapisan sehingga dalam diferensiasi sosial agama tidak ada status yang lebih tinggi atau rendah karena pada dasarnya setiap agama memiliki status yang sama.

Secara umum setiap agama mempunyai komponen-komponen yang selalu ada. Komponen-komponen tersebut antara lain emosi keagamaan, sistem keyakinan, upacara keagamaan, tempat ibadah dan umat.

1). Emosi keagamaan, yaitu suatu sikap yang tidak rasional yang mampu menggetarkan jiwa, misalnya sikap takut bercampur percaya.

2). Sistem keyakinan, yaitu bentuk pikiran atau gagasan manusia seperti keyakinan akan sifat-sifat Tuhan, wujud alam gaib, kosmologi, masa akhirat, cincin sakti, roh nenek moyang, dewa-dewa dan sebagainya.

3). Upacara keagamaan, yang berupa bentuk ibadah kepada Tuhan, dewa-dewa, dan roh nenek moyang.

4). Tempat ibadah seperti masjid, gereja, pura, wihara, kuil, dan kelenteng.

5). Umat, yaitu anggota salah satu agama yang merupakan kesatuan sosial.

e. Diferensiasi Profesi (Pekerjaan)

Profesi atau pekerjaan adalah suatu kegiatan yang dilakukan manusia sebagai sumber penghasilan atau mata pencahariannya. Dalam masyarakat social profesi merupakan suatu pekerjaan yang memerlukan suatu keterampilan khusus. Misalnya, profesi guru memerlukan keterampilan khusus seperti, pandai berbicara, suka membimbing, sabar, dan sebagainya. Di masyarakat terdapat berbagai macam profesi yang dimiliki anggota masyarakat. Hal ini dikarenakan pengaruh industrialisasi dan modernisasi, serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Diferensiasi profesi merupakan penggolongan anggota masyarakat berdasarkan jenis pekerjaan yang dimiliki. Berdasarkan penggolongan inilah kita mengenal kelompok masyarakat berprofesi seperti guru, dokter, pedagang, buruh, pegawai negeri, tentara, dan sebagainya.

Perbedaan profesi biasanya akan membawa pengaruh terhadap perilaku sosial seseorang di lingkungannya. Contoh, perilaku seorang dokter tentunya berbeda dengan perilaku seorang tukang becak ketika keduanya melakukan pekerjaan.

f. Diferensiasi Jenis Kelamin

Jenis kelamin merupakan kategori dalam masyarakat yang berdasarkan pada perbedaan seks atau jenis kelamin (perbedaan biologis). Perbedaan biologis ini dapat kita lihat dari struktur organ reproduksi, bentuk tubuh, suara, dan sebagainya. Atas dasar itulah, terdapat kelompok masyarakat laki-laki atau pria dan kelompok masyarakat perempuan atau wanita.

Pada dasarnya kedudukan laki-laki dan perempuan sama, karena mempunyai kesempatan, status, dan peran sosial yang sama. Namun, di beberapa daerah tertentu status laki-laki dianggap lebih tinggi daripada perempuan atau sebaliknya. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan fisik dan sosialisasi nilai dan norma yang membedakan mereka. Akan tetapi, perbedaan tersebut bersifat horizontal bukan pada tingkatan-tingkatan dalam masyarakat.

g. Diferensiasi Asal Daerah

Diferensiasi asal daerah merupakan pengelompokan manusia berdasarkan asal daerah atau tempat tinggalnya, desa atau kota. Berdasarkan penggolongan ini dikenal dua kelompok masyarakat, yaitu masyarakat desa dan masyarakat kota. Masyarakat desa adalah kelompok orang yang tinggal di pedesaan atau berasal dari desa. Sedangkan masyarakat kota adalah kelompok orang yang tinggal di perkotaan atau berasal dari kota. Perbedaan masyarakat desa dan masyarakat kota tampak jelas dalam perilaku, tutur kata, cara berpakaian, cara menghias rumah, cara berinteraksi, dan lain-lain

C. Stratifikasi Sosial

Ada sebuah cerita dari daerah Dahomey, daerah di sekitar Gurun Sahara, Afrika pada abad XVIII. Penguasa atau raja Dahomey sangat didewakan dan dimuliakan. Para menteri diharuskan menyembahnyembah jika raja tersebut sedang lewat. Seluruh kekayaan kerajaan menjadi milik raja. Raja berhak menikahi semua wanita yang ia inginkan. Bahkan, raja berkuasa atas hidup mati seseorang. Jika ada seseorang yang menentang raja, maka orang tersebut akan dihukum mati. Dari cerita tersebut tampak adanya tingkatan-tingkatan sosial. Seorang raja memiliki tingkatan yang lebih tinggi dibanding dengan menteri dan rakyatnya, karena ia memiliki kuasa atas mereka.Sedangkan seorang menteri dan rakyat mempunyai tingkatan yang rendah. Me ngapa harus demikian? Karena itulah, sistem masyarakat yang berlaku. Dalam sosiologi, sistem ini dinamakan sistem stratifikasi sosial. Untuk lebih jelasnya simak dan perhatikan materi di bawah ini.

1. Pengertian Stratifikasi Sosial

Setiap individu dalam masyarakat memiliki status dan kedudukan. Status dan kedudukan ini mendorong munculnya perbedaan sikap seseorang terhadap orang lain. Dalam masyarakat orang memiliki harta berlimpah lebih dihargai daripada orang miskin. Demikian pula, orang yang lebih berpendidikan lebih dihormati daripada orang yang kurang berpendidikan. Atas dasar itulah, masyarakat dikelompokkan secara vertikal atau bertingkat-tingkat sehingga membentuk lapisan-lapisan sosial tertentu dengan kedudukannya masing-masing.

Pada dasarnya penggolongan masyarakat ini, telah dikenal sejak zaman dahulu. Bahkan seorang ahli filsafat dari Yunani, yaitu Aristoteles mengatakan bahwa di dalam tiap-tiap negara terdapat tiga unsur, yaitu mereka yang kaya sekali, mereka yang melarat, dan mereka yang berada di tengah-tengahnya. Menurut Aristoteles orang-orang kaya ditempatkan dalam lapisan atas, sedangkan orang-orang melarat ditempatkan dalam lapisan bawah, dan orang-orang di tengah ditempatkan dalam lapisan masyarakat menengah.

Dalam sosiologi, lapisan-lapisan ini dinamakan lapisan sosial atau stratifikasi sosial. Stratifikasi social berasal dari bahasa Latin ”stratum” (tunggal) atau ”strate” (jamak) yang berarti berlapis-lapis. Menurut Pitirim A. Sorokin, stratifikasi sosial adalah pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat atau hierarkis.

Menurut P.J. Bouman, pelapisan sosial adalah golongan manusia yang ditandai dengan suatu cara hidup dalam kesadaran akan beberapa hak istimewa tertentu. Oleh karena itu, mereka menuntut gengsi kemasyarakatan. Hal tersebut dapat dilihat dalam kehidupan anggota masyarakat yang berada di kelas rendah.

Pelapisan sosial merupakan gejala yang bersifat universal. Kapan pun dan di mana pun, pelapisan social selalu ada. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi (1974) menyebutkan bahwa selama dalam masyarakat ada sesuatu yang dihargai, maka dengan sendirinya pelapisan sosial terjadi. Sesuatu yang dihargai dalam masyarakat bisa berupa harta kekayaan, ilmu pengetahuan, atau kekuasaan.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pelapisan social adalah pembedaan antarwarga masyarakat ke dalam kelas-kelas social secara bertingkat. Wujudnya adalah terdapat lapisan-lapisan di dalam masyarakat di antaranya ada kelas sosial tinggi, sedang, dan rendah.

Pelapisan sosial merupakan perbedaan tinggi dan rendahnya kedudukan atau posisi seseorang dalam kelompoknya, apabila dibandingkan dengan posisi seseorang maupun kelompok lainnya. Dasar tinggi dan rendahnya lapisan sosial seseorang disebabkan oleh bermacam-macam perbedaan, seperti kekayaan di bidang ekonomi, nilai-nilai sosial, serta kekuasaan dan wewenang.

biosfer dan persebaran tumbuhan, hewan Oktober 10, 2009

Posted by adiwidia in Uncategorized.
Tags:
add a comment

BAB I
BIOSFER DAN PERSEBARAN HEWAN
TUMBUHAN

Tujuan Pembelajaran:
Setelah mempelajari bab ini Anda diharapkan mampu untuk menjelaskan pengertian biosfer dan menganalisis persebaran hewan dan tumbuhan.
Adapun hal-hal yang akan Anda pelajari untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut adalah:
1. pengertian biosfer,
2. persebaran hewan tumbuhan di muka bumi,
3. persebaran hewan tumbuhan di Indonesia, dan
4. pelestarian hewan dan tumbuhan di Indonesia.

Tahukah Anda kapan bumi terbentuk? Bumi terbentuk kira-kira 5 milyar tahun yang lalu, setelah bumi berumur 1 milyar tahun terbentuklah air dalam wujud cair yang memungkinkan terciptanya kehidupan di bumi. Bentuk kehidupan di bumi dimulai di air pada 3,5 milyar tahun yang lalu berupa bakteri, baru 600 juta tahun yang lalu muncul hewan bercangkang dan bertulang. Makhluk hidup terus berevolusi membentuk berbagai jenis termasuk manusia yang bentuk awalnya sudah dimulai kira-kira 2 juta tahun yang lalu. Seluruh sistem kehidupan di bumi termasuk unsur pendukungnya membentuk suatu sistem yang disebut biosfer, termasuk di dalamnya makhluk hidup (hewan dan tumbuhan). Dalam bab ini akan dibahas tentang biosfer dan persebaran hewan tumbuhan.
A. Pengertian Biosfer
Secara etimologi biosfer merupakan gabungan dari dua kata, yaitu bio yang berarti hidup dan sphere yang berarti lapisan. Jadi, biosfer adalah lapisan tempat hidup (habitat) makhluk hidup. Biosfer meliputi lapisan litosfer, hidrosfer, dan atmosfer. Ketiga lapisan tersebut saling berinteraksi dan membentuk lapisan biosfer tempat ditemukannya kehidupan di bumi. Setiap jenis makhluk hidup mempunyai tempat masing-masing di biosfer untuk tetap hidup sesuai dengan caranya. Tempat hidup itu disebut habitat, yaitu tempat hidup suatu organisme. Tempat hidup dengan unsurunsurnya beserta makhluk hidup yang tinggal di suatu kawasan secara keseluruhan akan membentuk sistem kehidupan yang disebut ekosistem. Sistem kehidupan di biosfer yang sebesar bumi secara umum dibagi menjadi ekosistem daratan (terrestrial ecosystem), ekosistem laut (marine ecosystem), dan ekosistem air tawar (fresh water ecosystem). Makhluk hidup atau organisme memiliki tingkat organisasi yang berkisar dari tingkat yang paling sederhana (protoplasma) ke tingkat organisasi yang paling kompleks (biosfer). Tingkat organisasi dari bawah ke atas, semakin kompleks.
Protoplasma adalah zat hidup dalam sel dan terdiri atas senyawa organic yang kompleks seperti lemak, protein, dan sejenisnya. Sel adalah satuan dasar suatu organisme dan terdiri atas protoplasma dan inti yang terkandung dalam membran. Jaringan adalah kumpulan sel yang memiliki bentuk dan fungsi yang sama, misalnya jaringan otot. Organ adalah bagian dari suatu organisme yang mempunyai fungsi tertentu, misalnya kaki atau telinga pada hewan dan manusia, daun atau akar pada tumbuhan. Sistem organ adalah kerja sama antara struktural dan fungsional yang harmonis, misalnya kerja sama antara mata dan telinga, antara daun dan batang pada tumbuhan. Organisme adalah suatu benda hidup, atau makhluk hidup. Populasi adalah kelompok organisme yang sejenis yang hidup dan berkembang biak pada suatu daerah tertentu. Misalnya, populasi manusia di Jakarta, populasi banteng di Baluran, atau populasi badak di Ujung Kulon. Komunitas adalah semua populasi dari berbagai jenis yang menempati suatu daerah tertentu. Pada daerah tersebut tiap populasi saling berinteraksi. Misalnya, populasi harimau berinteraksi dengan populasi gajah di Sumatra Selatan, populasi ikan emas berinteraksi dengan populasi ikan mujaer di kolam. Ekosistem adalah tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi. Ekosistem merupakan hubungan timbal balik yang kompleks antara organisme dan lingkungannya baik yang hidup maupun tak hidup (tanah, air, udara), yang secara bersamasama membentuk suatu sistem ekologi. Misalnya, ekosistem hutan mangrove di Segara Anakan atau ekosistem air tawar di danau Toba. B. Persebaran Hewan Tumbuhan di Muka Bumi
1. Persebaran Hewan (Fauna) di Muka Bumi
a. Fauna di Padang Rumput
Padang rumput merupakan habitat dari berbagai jenis binatang, karena padang rumput menyediakan segala yang dibutuhkan oleh hewan-hewan pemakan rumput (herbivora). Jenis hewan yang hidup di padang rumput antara lain kuda, zebra, bison, dan kanguru (yang hidup di padang rumput Australia). Selain hewan herbivora, di daerah ini juga terdapat hewan predator seperti singa, harimau, serigala, dan binatang karnivora lainnya.

b. Fauna di Daerah Gurun
Gurun identik dengan daerah kering, sehingga binatang yang berada di daerah ini biasanya mampu beradaptasi dan bertahan hidup dalam kondisi cuaca yang panas dan kering. Binatang yang hidup di daerah kering dicirikan dengan pencarian mangsa pada pagi hari atau malam hari dan hidupnya di lubang-lubang untuk melindungi diri dari sengatan sinar matahari pada siang hari, dan cuaca dingin pada malam hari. Binatang yang hidup di gurun biasanya berukuran kecil, seperti kadal, ular, dan tikus. Binatang yang berukuran besar biasanya jarang ditemui di daerah ini, karena adaptasinya yang sulit. Contoh, binatang besar yang mampu beradaptasi dan bertahan hidup di daerah gurun adalah unta dan kuda.
c. Fauna di Daerah Tundra
Tundra merupakan daerah yang mempunyai iklim kutub, oleh karena itu daerah ini merupakan daerah dingin (beku). Fauna di daerah tundra dicirikan mempunyai bulu-bulu yang tebal, yang berfungsi sebagai pelindung dari cuaca dingin di daerah tersebut. Fauna yang hidup di daerah tundra antara lain pendeer dan muskox merupakan jenis hewan herbivora (pemakan jenis lumut). Jenis hewan mamalia yang mampu bertahan di daerah tundra antara lain beruang kutub, serigala kutub, dan kelinci kutub. Daerah tundra yang beriklim kutub yang dingin memiliki jenis fauna lebih sedikit dibandingkan daerah gurun. d. Fauna di Hutan Tropik Fauna yang hidup di hutan tropik jenisnya sangat beragam antara lain kera, berbagai jenis burung, hariamau, gajah, serangga, binatang melata, dan berbagai jenis hewan vertebrata dan invertebrata lainnya.
e. Fauna di Daerah Taiga
Jenis fauna yang ada di daerah taiga didominasi oleh bermacam-macam burung yang bermigrasi ke arah selatan pada waktu musim gugur. Jenis fauna yang khas di daerah ini adalah moose, serigala, dan beruang hitam.
f. Fauna di Daerah Kutub
Fauna yang mampu hidup di daerah kutub pada umumnya mempunyai bulubulu yang tebal, seperti jenis hewan yang hidup di daerah tundra. Fauna yang hidup di daerah kutub antara lain beruang kutub serta mamalia air seperti singa laut, yang dijadikan sebagai makanan utama beruang kutub, dan sejenis burung yaitu penguin.

2. Jenis Hewan (Fauna) di Perairan
Organisme di dalam air dapat diklasifikasikan berdasarkan model kehidupannya, sebagai berikut.
a. Bentos, adalah organisme yang melekat di dasar endapan. Bentos dapat dibagi berdasarkan cara makannya, yaitu pemakan penyaring (kerang) dan pemakan deposit (siput).
b. Plankton, adalah organisme mengapung yang pergerakannya tergantung pada arus laut.
c. Nekton, adalah organisme yang dapat berenang dan bergerak dengan kemampuannya sendiri, misalnya ikan, ampibi, dan serangga air.
d. Neustin, adalah organisme yang beristirahat atau berenang pada permukaan laut.

3. Persebaran Tumbuhan (Flora) di Muka Bumi
Lapisan kehidupan di darat dapat diketahui berdasarkan ketampakan yang disebut biom (biome) atau formasi biota. Sebuah biom adalah sekelompok ekosistem daratan pada sebuah benua (pulau) yang mempunyai struktur dan ketampakan vegetasi yang sama, sifat-sifat lingkungan yang sama, dan mempunyai karakteristik komunitas yang sama pula. Faktor utama pembentuk biom adalah pola-pola (tipe) iklim di bumi yang tidak sama, yang disebabkan oleh bentuk bumi yang bulat, sehingga menyebabkan intensitas penyinaran matahari dan curah hujan yang diterima tidak sama. Setiap tipe iklim dengan karakteristik komunitas tumbuhan dan hewan yang mampu beradaptasi dengan faktor-faktor lingkungannya akan membentuk sebuah biom. Berikut ini diuraikan tipe-tipe biom yang dikenal di bumi.
a. Hutan Hujan Tropika (Tropical Rains Forests)
Hutan jenis ini terdapat di daerah tropika yang basah dengan curah hujan yang tinggi dan tersebar merata sepanjang tahun. Biom ini terdapat di Amerika Tengah, Amerika Selatan, Afrika, Asia Tenggara (termasuk Indonesia), dan Australia Timur Laut. Ciri yang dapat dilihat pada hutan jenis ini di antaranya pohon- pohonnya tinggi, berdaun lebar dan selalu hijau, serta jenis pohon yang bermacam- macam (heterogen). Sering terdapat tanaman merambat berkayu yang dapat mencapai puncak-puncak pohon yang tinggi (rotan), dan epifit yang menempel pada batang pohon (paku-pakuan, anggrek). Hutan ini kaya akan jenis-jenis hewan vertebrata dan invertebrata.
b. Hutan Musim Tropika (Tropical Seasonal Forest)
Hutan jenis ini terdapat di daerah tropika yang beriklim basah tetapi mempunyai musim kemarau yang panjang. Selama musim kemarau umumnya pohon- pohon merontokkan daunnya (meranggas) untuk mengurangi penguapan. Hutan musim tropika tersebar di India, Asia Tenggara dan daerah tropika lainnya.
c. Hutan Hujan Iklim Sedang (Temperate Rainforests)
Hutan jenis ini tersebar di sepanjang Pantai Pasifik di Amerika Utara, yang terbentang dari negara bagian California sampai ke negara bagian Washington. Di negara bagian California dan Oregon disebut dengan redwood forests, sedangkan di negara bagian Washingotn berupa hutan campuran (mixed coneferous rainforests), di Australia disebut dengan hutan eucalyptus.
Hutan hujan iklim sedang merupakan hutan dengan pepohonan yang tertinggi di dunia, tetapi jenisnya lebih sedikit dibandingkan hutan hujan tropika. d. Hutan Gugur (Temperate Deciduous Forests) Hutan gugur terdapat di daerah yang beriklim kontinen sedang tetapi agak basah. Pohon-pohon yang dominan adalah pohon-pohon berdaun lebar dan tingginya mencapai 30-40 meter. Terdapat hewan-hewan yang beragam, namun dengan aktivitas musiman, terutama rusa yang merupakan herbivore utama. Hutan ini tersebar luas di Amerika Serikat, Eropa, Asia Timur, dan Cile, serta di Pegunungan Amerika Tengah.
e. Taiga (Leaved Forests)
Taiga adalah hutan pohon pinus dengan daun-daun seperti jarum. Pohonpohon yang terdapat di hutan taiga antara lain konifer (pohon spruce, alder, dan birch) yang tumbuh di tempat-tempat dingin. Taiga tersebar di belahan bumi utara (Kanada utara dan tengah, Rusia, dan Siberia Utara).
f. Stepa
Stepa adalah padang rumput yang kering dan tidak ditumbuhi semak-semak.
g. Sabana
Sabana, yaitu padang rumput yang kering dan ditumbuhi semaksemak belukar dan juga ditumbuhi pepohonan. Sabana banyak terdapat di Afrika yang menjadi habitat hewan yang merumput (grazing animal). Sabana terdapat pula di Australia, Amerika Selatan, dan Asia Selatan.
Di Indonesia, sabana terdapat di Nusa Tenggara Timur dan Papua bagian tenggara. Sabana biasanya merupakan daerah peralihan antara hutan dan padang rumput. Sabana terjadi karena keadaan tanah, kebakaran yang berulang, dan bukan disebabkan oleh keadaan iklim.
h. Tundra
Tundra adalah daerah beku dan tandus di wilayah kutub utara. Di wilayah ini tumbuhan jarang atau bahkan tidak dapat hidup. Biasanya vegetasi yang ada hanya padang lumut.
i. Gurun (Desert)
Gurun adalah hamparan padang pasir yang terdapat di semua benua dan mencakup bermacam-macam komunitas. Pada umumnya tumbuhan yang hidup di gurun berdaun kecil atau tidak berdaun, serta dapat beradaptasi terhadap penguapan yang cepat dan air yang sedikit, misal tumbuhan kaktus, perdu kreosot, dan semak-semak gurun. Contoh gurun antara lain Gurun Sahara dan Kalahari di Afrika, dan Gurun Gobi di Asia.

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pola persebaran flora di dunia antara lain:
a. pola iklim, yang berkaitan dengan letak lintang dan curah hujan,
b. tipe-tipe tanah,
c. keadaan geologi masa lampau dan evolusi, dan
d. relief atau topografi.

4. Jenis Tumbuhan (Flora) di Perairan
Jenis flora di perairan antara lain sebagai berikut.
a. Terumbu Karang (Coral Reefs)
Terumbu karang adalah gunung kalsium karbonat yang berada di bawah laut. Gunung ini terdiri atas karang, pasir karang, dan batu kapur padat. Terumbu tersebut menjadi dasar bagi komunitas kehidupan laut yang dinamis dan beragam. Jenis terumbu karang antara lain terumbu karang pinggiran (fringing reefs), terumbu karang penghalang (barrier reefs), maupun atoll dan pseudo-atoll.

  • Terumbu karang pinggiran (fringing reef), biasanya tumbuh dari pantai, dan melebar ke arah laut, seringkali mengikuti bentuk luar pulau. Terumbu jenis ini banyak terdapat di kawasan Kepulauan Karibia.
  • Karang penghalang (barrier reef) terbentuk dari bentangan pantai yang dangkal yang tidak memiliki sungai atau faktor lain yang menghalangi pertumbuhan terumbu karang tersebut. Terumbu dan daratan dipisahkan oleh laguna dangkal. Laguna antara Great Barrier Reef dan pesisir timur laut Australia lebarnya berkisar antara 16 dan 160 kilometer dan merupakan karang penghalang terbesar di dunia.
  • Karang atol tumbuh merupakan koloni karang di puncak gunung api bawah laut yang muncul dari dasar laut. Tumpukan karang itu makin meluas ke arah luar, bukan ke atas karena sebagian besar hewan karang harus hidup terendam air. Bentuknya seperti kue donat yang mengikuti puncak gunung api. Oleh sebab itu, atol yang terbentuk biasanya memiliki laguna di tengahnya (kaldera gunung api). Bentuk karang seperti ini banyak dijumpai di Pasifik Selatan.

Luas terumbu karang di Indonesia diperkirakan sekitar 85.707 km2, meliputi 50.223 km2 karang penghalang, 19.540 km2 terumbu karang atol, dan 15.944 karang pinggiran (tepi). Kawasan laut sekitar Maluku dan Sulawesi merupakan kawasan terumbu karang yang paling banyak dan beragam di Indonesia, bahkan di dunia. Makin ke barat atau ke timur jumlah dan keanekaragaman jenis terumbu karang semakin berkurang.
b. Padang Lamun
Lamun adalah tumbuhan berbunga yang sudah beradaptasi sepenuhnya di dalam laut. Tumbuhan ini mampu berfungsi normal dalam keadaan terbenam di air laut yang asin, mempunyai sistem perakaran jangkar dan mampu mengadakan penyerbukan serta daur generatif dalam keadaan terbenam. Lamun dapat tumbuh subur terutama di daerah pasang surut dan perairan pantai yang dasarnya berupa lumpur, pasir, kerikil, dan patahan karang mati dengan kedalaman sampai 4 meter.
Dari 20 jenis lamun yang ada di perairan Asia Tenggara, 12 di antaranya dijumpai di perairan Indonesia. Padang lamun merupakan habitat yang sangat penting bagi komunitas ikan, penyu hijau, dan dugong (duyung), karena tumbuhan di padang lamun merupakan sumber makanannya.

C. Persebaran Hewan (Fauna) dan Tumbuhan (Flora) di Indonesia
Indonesia mempunyai keanekaragaman jenis hewan dan tumbuhan terbesar kedua di dunia setelah Brasil. Berikut akan diuraikan persebaran hewan dan tumbuhan di Indonesia.
1. Persebaran Fauna di Indonesia
Fauna sering juga diartikan dunia hewan. Arti fauna adalah semua hewan yang hidup di suatu daerah atau pada zaman tertentu, sedangkan uraian fauna Indonesia terbatas pada zaman sekarang ini. Uraian fauna lebih ditekankan pada hewan liar, sedangkan hewan yang dibudidayakan akan diuraikan pada peternakan.
Suatu daerah mempunyai ciri lingkungan tertentu yang berpengaruh terhadap jenis dan kehidupan hewan. Indonesia mempunyai berbagai macam lingkungan sebagai wilayah tempat hidup dan berkembangnya fauna. Pulaupulau besar dan kecil yang jumlahnya lebih dari 13.000 buah, perairan yang luasnya mencapai lebih dari tiga juta kilometer persegi, dan terletak di sekitar khatulistiwa, merupakan tempat tinggal dari berbagai jenis fauna. Di Indonesia terdapat lebih dari 500 jenis hewan menyusui (Mamalia), lebih dari 4.000 jenis ikan (Pisces), lebih dari 1.600 jenis burung (Aves), lebih dari 1.000 jenis hewan Reptil dan Amfibi, serta lebih dari 200.000 jenis serangga (insecta).
Jenis-jenis ikan meliputi ikan yang hidup di air tawar, air payau, maupun air asin. Jenis-jenis serangga meliputi yang hidup di dalam tanah, di tempat gelap, merayap di dalam kayu lapuk, maupun yang terbang. Di samping itu masih banyak jenis cacing, lintah, siput, dan kerang.

a. Pembagian Fauna di Indonesia
Jenis-jenis dan persebaran hewan yang ada di Indonesia mempunyai kaitan dengan sejarah terbentuknya kepulauan Indonesia. Indonesia bagian barat, yang meliputi Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya pernah menjadi satu dengan Benua Asia. Indonesia bagian timur, Papua, dan pulaupulau di sekitarnya pernah menjadi satu dengan Benua Australia. Indonesia bagian tengah, Pulau Sulawesi bersama pulau di sekitarnya, Kepulauan Nusa Tenggara dan Kepulauan Maluku, merupakan wilayah yang tidak termasuk Benua Asia maupun Australia.
1) Pembagian Fauna Menurut Wallace (1910)
Pada tahun 1910 (tiga tahun sebelum ia wafat), Wallace dengan mempertimbangkan keunggulan bentuk fauna Asia di Sulawesi, menyimpulkan bahwa fauna Sulawesi tampak demikian khas, sehingga Wallace mendugabahwa Sulawesi dahulu pernah bersambung dengan Benua Asia maupun Benua Australia. Wallace membuat garis yang ditarik dari sebelah timur Filipina, melalui Selat Makassar dan antara Bali dan Lombok yang dikenal dengan Garis Wallace dengan kemudian Wallace menggeser garis yang telah ditetapkan sebelumnya ke sebelah timur Sulawesi (Wallace, 1910). Sulawesi merupakan daerah peralihan antara fauna Asia dengan fauna Australia.
Wallace mengelompokkan jenis fauna di Indonesia menjadi tiga, yaitu:
a) Fauna Asiatis (Tipe Asia), menempati bagian barat Indonesia sampai Selat
Makassar dan Selat Lombok. Di daerah ini terdapat berbagai jenis hewan menyusui yang besar seperti:
(1). tapir terdapat di Sumatra dan Kalimantan,
(2). banteng terdapat di Jawa dan Kalimantan,
(3). kera gibon terdapat di Sumatra dan Kalimantan,
(4). mawas (orang hutan), yaitu jenis kera besar dan tidak berekor, hewan ini banyak terdapat di hutan-hutan Sumatra Utara dan Kalimantan,
(5). beruang terdapat di Sumatra dan Kalimantan,
(6). badak terdapat di Sumatra dan Jawa (bercula dua),
(7). gajah terdapat di Sumatra (berpindah-pindah),
(8). siamang (kera berwarna hitam dan tak berekor) terdapat di Sumatra,
(9). kijang badannya berwarna kemerah-merahan terdapat di Jawa, Sumatra, Bali, dan Lombok,
(10). harimau loreng terdapat di Jawa dan Sumatra, sedangkan harimau kumbang dan tutul terdapat di Jawa, Bali, dan Madura,
(11). kancil adalah kijang kecil banyak terdapat di Jawa, Sumatra, dan Kalimantan,
(12). trenggiling banyak terdapat di Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Bali, dan
(13). jalak Bali terdapat di Bali, dan burung merah terdapat di Jawa.

Di daerah ini juga ditemui jenis hewan lain, seperti kancil pelanduk (terdapat di Sumatra, Jawa, dan Kalimantan), singa, mukang (terdapat di Sumatra, dan Kalimantan), dan ikan lumba-lumba (terdapat di Kalimantan).

b) Fauna tipe Australia, menempati bagian timur Indonesia meliputi Papua dan pulau-pulau di sekitarnya. Di daerah ini tidak didapatkan jenis kera, binatang menyusuinya kecil-kecil dan jumlahnya tidak banyak. Hewan-hewan di Indonesia bagian timur mirip dengan hewan Australia. Jenis hewan tipe Australia, antara lain sebagai berikut.
(1). Burung, terdiri atas cenderawasih, kasuari, nuri dan raja udang.
(2). Amfibi, terdiri atas katak pohon, katak terbang, dan katak air.
(3). Berbagai jenis serangga.
(4). Berbagai jenis ikan.
(5). Mamalia, terdiri atas kanguru, walabi, beruang, nokdiak (landak Papua), opossum laying (pemanjat berkantung), kuskus, dan kanguru pohon.
(6). Reptilia, terdiri atas buaya, biawak, kadal, dan kura-kura.

c) Fauna peralihan, menempati di antara Indonesia timur dan Indonesia barat, misalnya di Sulawesi terdapat kera (fauna Asiatis) dan terdapat kuskus (fauna Australia). Di samping itu terdapat hewan yang tidak didapatkan baik tipe Asiatis maupun tipe Australia.

Fauna Indonesia yang tergolong tipe peralihan adalah sebagai berikut.
(1). Mamalia, terdiri atas anoa, babi rusa, kuskus, monyet hitam, sapi, banteng, dan kuda.
(2). Reptilia, terdiri atas biawak, komodo, kura-kura, dan buaya.
(3). Amfibi, terdiri atas katak pohon, katak terbang, dan katak air.
(4). Berbagai macam burung, terdiri atas maleo, kakaktua, nuri, merpati, burung dewata, dan angsa.

Di antara fauna yang terdapat di wilayah Indonesia bagian tengah terdapat fauna yang khas Indonesia dan tidak dijumpai di daerah lain serta termasuk hewan langka, antara lain anoa (mirip lembu) terdapat di Sulawesi; biawak komodo terdapat di Pulau Komodo, Nusa Tenggara; burung maleo terdapat di Sulawesi dan Kepulauan Sangihe.

2) Pembagian Fauna Menurut Weber
Banyak ahli yang melakukan telaah tentang persebaran jenis hewan di Indonesia dengan membuat garis batas yang berbeda-beda. Salah satu ahli adalah Weber, ia menentukan batas dengan imbangan perbandingan hewan Asia dan Australia 50 : 50. Weber menggunakan burung dan hewan menyusui sebagai dasar analisisnya, tetapi tidak setiap binatang yang dijadikan dasar memiliki garis batas yang sama. Contohnya, hewan melata dan kupu-kupu Asia menembus lebih jauh ke arah timur daripada burung dan siput.
Garis batas antara Indonesia bagian barat dengan bagian tengah disebut garis Wallace dan garis batas antara Indonesia bagian timur dengan bagian tengah disebut garis Weber.

3) Pembagian Fauna Menurut Lydekker
Ahli lain, yaitu Lydekker, menentukan batas barat fauna Australia dengan menggunakan garis kontur dan mengikuti kedalaman laut antara 180 – 200 meter, sekitar Paparan Sahul dan Paparan Sunda. Hal ini sama dengan Wallace yang menentukan batas timur fauna Asia.
Adanya perbedaan fauna antara wilayah Indonesia bagian barat dan timur karena kedua wilayah itu terpisah oleh perairan yang cukup luas dan dalam, dan kedalaman lautnya lebih dari 1000 meter. Laut yang dalam tersebut sebagai pemisah antara kedua wilayah, sehingga fauna pada masing-masing wilayah berkembang sendiri-sendiri.
Perbedaan Fauna Asiatis dan Fauna Australia
Fauna Asiatis Fauna Australia
1. hewan menyusui besar dan kecil
2. tidak terdapat hewan berkantung
3. terdapat berbagai jenis kera
4. jenis burung berwarna sedikit
5. terdapat berbagai jenis kucing liar dan ajag
6. jenis ikan air tawar banyak
1. hewan menyusui kecil-kecil
2. terdapat hewan berkantung
3. tidak terdapat kera
4. jenis burung berwarna banyak
5. tidak terdapat jenis kucing liar dan ajag
6. jenis ikan air tawar sedikit

2. Persebaran Tumbuhan (Flora) di Indonesia
Keanekaragaman tumbuhan di Indonesia dipengaruhi oleh:
a. Indonesia terletak di kawasan tropik yang mempunyai iklim yang stabil.
b. Indonesia terletak di antara dua benua yaitu Asia dan Australia, artinya Kepulauan Indonesia dilintasi oleh dua pusat persebaran biota Asia dan Australia.
c. Luas Kepulauan Indonesia, yang memungkinkan adanya berbagai spesies hewan, dan tumbuhan yang hidup di dalamnya.

a. Keadaan Flora di Indonesia
Flora sering diartikan sebagai dunia tumbuh-tumbuhan. Arti flora adalah semua tumbuh-tumbuhan yang hidup di suatu daerah pada zaman tertentu. Keanekaragaman flora Indonesia tergolong tinggi jumlahnya di dunia, jauh lebih tinggi dari flora yang ada di Amerika dan Afrika. Demikian pula jika dibandingkan dengan daerah-daerah yang beriklim sedang dan dingin.
Jenis flora yang terdapat di Indonesia secara keseluruhan kurang lebih 25.000 jenis atau lebih dari 10% dari flora dunia. Lumut dan ganggang kurang lebih 35.000 jenis. Tidak kurang dari 40% dari jenis-jenis ini merupakan jenis endemik, atau jenis yang hanya terdapat di Indonesia. Jumlah marga endemic yang ada di Indonesia ada 202 jenis, 59 di antaranya terdapat di Kalimantan. Dari semua jenis flora yang ada suku anggrek (orchidaceae) merupakan suku yang terbesar. Volume kayu yang bernilai niaga yang terdapat di hutan seperti Kalimantan diperkirakan sebanyak 40 – 400 m3 per hektar.
Keanekaragaman hayati Indonesia yang jumlahnya cukup tinggi tersebut, baru sekitar 6.000 spesies tumbuhan, 1.000 spesies hewan, dan 100 spesies jasad renik yang telah diketahui potensinya dan dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia untuk menunjang kebutuhan hidupnya. Spesies-spesies asli yang telah berhasil dibudidayakan untuk menjamin kebutuhan pangan kita antara lain adalah padi,\ tebu dan pisang, untuk kesehatan kunyit dan jahe, serta untuk bahan bangunan adalah bambu dan kayu sungkai.
Spesies-spesies pendatang yang sudah diperkenalkan puluhan tahun yang lalu dan merupakan komoditi ekspor penghasil devisa antara lain teh, kopi, tembakau, coklat, dan karet. Di samping yang telah dibudidayakan, banyak spesies yang telah dimanfaatkan meskipun masih hidup liar di hutan-hutan Indonesia, antara lain tumbuhan obat pasak bumi, kepuh, kedawung, dan temu hitam yang dipanen dari populasi alami. Hutan kita pun dihuni oleh kerabat liar tanaman budi daya seperti durian hutan, rambutan hutan, tengkawang, serta rotan.
Ada berbagai faktor yang berpengaruh terhadap tumbuh-tumbuhan di Indonesia, yaitu faktor fisik dan faktor biotik.
1) Faktor Fisik
a) Iklim
Iklim sangat besar pengaruhnya terutama terhadap suhu udara dan jumlah curah hujan. Daerah yang curah hujannya tinggi memiliki hutan yang lebat dan beraneka jenis tanaman yang hidup di dalamnya. Daerah yang hujannya relatif kurang biasanya tidak memiliki hutan yang lebat. Misalnya di Nusa Tenggara, hutan yang lebat hampir tidak ada, di daerah ini banyak ditumbuhi semak belukar dengan padang-padang rumput yang luas.
b) Suhu Udara
Fr. Junghuhn (1809-1864), seorang penyelidik bangsa Jerman membedakan jenis tumbuh-tumbuhan berdasarkan ketinggian tempatnya.
(1). Tingkat tropis setinggi 700 m, terdiri atas tumbuh-tumbuhan tropis.
(2). Tingkat subtropis hingga 1.000 m, sudah mulai tidak ada tumbuh-tumbuhan hutan dataran rendah.
(3). Ketinggian 1.000-2.000 m, terdapat tumbuh-tumbuhan dari iklim sedang. Daerah ini banyak terdapat kabut, pohonpohonnya telah ditumbuhi lumut (hutan kabut dan hutan lumut).
(4). Lebih tinggi dari 2.000 m, hanya sedikit pohon, dan hanya terdapat belukar dan rumput.

Suhu udara juga sangat berpengaruh pada kehidupan mewarnai tanaman di suatu daerah. Junghuhn telah membuat zonasi (pembatasan wilayah) tumbuh-tumbuhan di Indonesia, seperti terlihat pada Gambar di bawah

c) Tanah dan Relief
Tanah sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan berbagai tanaman, antara lain butiran dan susunannya (struktur yang mendukung). Di daerah yang berelief kasar, maka lereng yang banyak mendapat sinar matahari hutannya lebih lebat daripada lereng yang kurang mendapat sinar matahari.

d) Keadaan Air
Pertumbuhan tanaman sangat dipengaruhi oleh keadaan air. Berdasarkan kebutuhan akan air, tanaman dapat digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu:
(1). Xerofita adalah tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di daerah kering, misalnya kaktus.
(2). Hidrofita adalah tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di daerah basah, misalnya teratai dan eceng gondok.
(3). Mesofita adalah tumbuh-tumbuhan yang tumbuh di tempat sedang dan membutuhkan air dalam jumlah sedang.
.
e) Geologi
Persebaran geografis tumbuhan di Kepulauan Indonesia secara keseluruhan juga ditentukan oleh faktor geologis. Contoh di Paparan Sunda di bagian barat\ dan Paparan Sahul di bagian timur, keadaan floranya mempunyai banyak kesamaan, misalnya antara Sumatra dan Kalimantan mempunyai persamaan flora mencapai 90%. Adanya variasi flora dari masing-masing paparan merupakan pengaruh dari oleh faktor lingkungan setempat.

2) Faktor Biotik
Tumbuhan merupakan salah satu faktor biotik yang berpengaruh terhadap keadaan tumbuhan yang lain. Tumbuhan yang besar akan melindungi tumbuhan yang ada di bawahnya. Binatang yang sangat membantu proses terjadinya penyerbukan dan penyebaran biji tumbuh-tumbuhan. Faktor biotik yang sangat besar peranannya adalah manusia. Manusia dapat merusak dan melindungi tumbuh-tumbuhan. Manusia dapat mengubah hutan menjadi areal industri dan daerah perkotaan, tapi manusia juga dapat mengubah daerah yang gersang menjadi daerah yang rindang.

b. Perwilayahan Flora Indonesia
1) Flora di Daerah Paparan Sahul
Flora di daerah Paparan Sahul adalah flora di daerah Irian Jaya, yang terdiri atas tiga macam, sebagai berikut.
a) Pohon sagu, pohon nipah, dan mangrove.
b) Hutan hujan tropik.
c) Jenis Pemetia Pinnata (motea).

2) Flora di Daerah Peralihan
Di Sulawesi terdapat 4.222 jenis flora yang berkerabat dekat dengan wilayah lain yang relatif kering di Filipina, Maluku, Nusa Tenggara, dan Jawa. Flora di daerah peralihan yang berada di habitat pantai, dataran rendah dan ultra basis lebih mirip dengan flora Irian dan jenis tumbuhan gunung mirip dengan yang ada di Kalimantan.
Flora Sulawesi menunjukkan percampuran antara Indonesia bagian barat dengan bagian timur. Jenis flora di Sulawesi banyak yang mempunyai kesamaan dengan wilayah kering di Jawa, Maluku, dan Nusa Tenggara, sedangkan flora dataran rendah di Sulawesi banyak yang mirip dengan flora dataran rendah di Papua.

3) Flora di Daerah Paparan Sunda
Flora di daerah paparan Sunda adalah flora di wilayah Sumatra yang terdiri atas tiga macam, yaitu:
a) Flora endemik, contoh bunga Rafflesia Arnoldi.
b) Flora di pantai timur terdiri atas mangrove dan rawa gambut.
c) Flora di pantai barat terdiri atas bermacam-macam vegetasi di antaranya meranti-merantian, kemuning, rawa gambut, hutan rawa air tawar, dan rotan. Flora di Kalimantan memiliki kesamaan dengan flora di Sumatra, yaitu hutan hujan tropik, hutan gambut, dan hutan mangrove.

Perbedaan Flora Indonesia Bagian Barat dengan Indonesia Bagian Timur

Indonesia Bagian Barat
(Tipe Asia) Indonesia Bagian Timur
(Tipe Australia)
a. Sedikit jenis tumbuhan matoa (Pometia Pinnata).
b. Terdapat berbagai jenis nangka (Artocarpus spp).
c. Tidak terdapat hutan kayu putih.
d. Sedikit jenis tumbuhan sagu.
e. Jenis meranti-merantian sangat banyak (350 jenis).
f. 6. Terdapat berbagai jenis rotan. a. Terdapat berbagai jenis tumbuhan matoa (Pometia pinnata) khususnya di Papua.
b. Tidak terdapat jenis-jenis nangka (Artocarpus spp).
c. Terdapat hutan kayu putih.
d. Banyak jenis tumbuhan sagu.
e. Jenis meranti-merantian sedikit (25 pohon).
f. Tidak terdapat rotan.

Secara garis besar, pembagian flora Indonesia oleh Prof. C.G.G.J. Van Steenis (1950) adalah seperti pada gambar 1.19. Garis Wallace membatasi antara flora Indonesia bagian barat dengan bagian timur, sedangkan garis Zollinger memberikan batas di Indonesia bagian timur yang mempunyai musim kemarau panjang, yaitu di Kepulauan Nusa Tenggara.

c. Persebaran Tumbuhan di Indonesia Berdasarkan Iklim dan Keadaan Daerah
Persebaran tumbuh-tumbuhan menurut lingkungan geografi berdasarkan iklim dan keadaan daerah di Indonesia adalah sebagai berikut.
1) Hutan Mangrove
Hutan mangrove atau hutan pasang, hutan ini khas bagi daerah pantai tropik, ciri tumbuhan ini mempunyai akar napas yang tergantung dari batang, benih tumbuhan dapat mengapung di air laut selama beberapa bulan, sehing-ga masih dapat tumbuh setelah terdampar di daratan. Terdapat gejalavivipari, yaitu perkecambahan biji pada tumbuhan induk. Hutan ini banyak terdapat di pantai timur Pulau Sumatra dan daerah pantai Kalimantan Tengah, dan Papua, dan sebagian besar daerah pantai di seluruh dunia.
2) Hutan Lumut (Tundra)
Hutan lumut, terdapat di pegunungan-pegunungan tinggi yang selalu tertutup kabut karena letaknya sangat tinggi dari permukaan laut, sehingga udaranya sangat lembap dan suhunya rendah sekali. Hutan lumut terdiri atas pohon-pohonan yang ditumbuhi dengan lumut, misalnya di pegunungan tinggi di Papua, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Jawa.
3) Hutan Rawa
Hutan rawa, meliputi daerah yang cukup luas di Indonesia. Hutan rawa air tawar tidak menghasilkan kayu yang baik, tetapi tanahnya dapat dimanfaatkan sebagai tanah pertanian. Hutan rawa gambut dapat menghasilkan kayu, salah satunya ialah kayu ramin. Hutan rawa gambut banyak terdapat di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.
4) Hutan Musim
Jenis hutan ini sering disebut dengan hutan homogen, karena tumbuhannya hanya terdiri atas satu pohon. Hutan ini bercirikan gugurnya daun-daun pada musim kemarau (meranggas). Sebagai contoh ialah hutan jati, cemara, dan pinus. Jenis hutan ini banyak terdapat di Indonesia bagian tengah, Jawa Tengah, dan Jawa Timur sampai Nusa Tenggara.
5) Hutan Hujan Tropis
Hutan hujan tropis merupakan hutan rimba yang memiliki pohonpohon yang lebat. Jenis hutan ini banyak terdapat di daerah hutan tropis atau daerah yang mengalami hujan sepanjang tahun. Hutan ini sering disebut dengan hutan heterogen, karena tumbuhannya terdiri bermacam- macam jenis pohon. Jenis hutan ini banyak terdapat di Pulau Sumatra, Kalimantan, dan Papua.
6) Stepa
Stepa, adalah padang rumput yang cukup luas. Terdapatnya stepa di Indonesia disebabkan curah hujan sudah banyak turun di bagian barat seperti Sumatra dan Jawa Barat, sehingga angin musim yang membawa hujan dari arah Asiasudah kering setelah sampai di daerah ini. Curah hujan yang ada hanya cukup untuk tumbuhnya tumbuh-tumbuhan jenis rumput yang tidak terlalu banyak membutuhkan air. Daerah yang terdapat stepa ini antara lain Nusa Tenggara Timur dan Timor Timur.
7) Sabana
Sabana memiliki ciri daerah padang rumput yang luas dengan diselingi adanya pohon-pohon atau semak- semak di sekitarnya. Daerah ini mengalami musim kemarau yang panjang dan bersuhu panas. Di Indonesia terdapat di Nusa Tenggara, Madura, dan di dataran tinggi Gayo (Aceh). Wilayah ini digunakan untuk peternakan, seperti sapi, kuda, dan kambing.

D. Pelestarian Flora (Tumbuhan) dan Fauna (Hewan) di Indonesia
Pelestarian alam merupakan bagian integral dari pembangunan. Menurut konsep terakhir, pengertian pelestarian alam mempunyai ruang lingkup yang luas. Pelestarian alam bukan hanya alam yang dilindungi, tetapi juga semua makhluk dan faktor lingkungannya. Jadi, usaha pelestarian alam harus ditetapkan pada sistem kehidupan secara menyeluruh. Usaha ini meliputi pengolahan lingkungan yang lebih baik agar kualitas hidup manusia dapat meningkat.
1. Pelestarian Tumbuhan atau Flora di Indonesia
Pelestarian tumbuhan di Indonesia tidak hanya ditujukan pada jenis-jenis tumbuhan langka saja, tetapi juga ditujukan untuk kelestarian sumber daya kayu sebagai kekayaan alam. Pelestarian flora dilakukan antara lain sebagai berikut.
a. Pengawasan Ketat terhadap Kayu Hutan
b. Penanaman Hutan Kembali (Reboisasi)
c. Cagar Alam
Kawasan hutan yang dilindungi untuk mempertahankan tumbuhan/flora agar dapat berkembang baik secara alami disebut cagar alam.
Berikut contoh cagar alam yang ada di Indonesia.
a. Rafflesia di Bengkulu, untuk melindungi bunga Rafflesia Arnoldi sebagai bunga terbesar di dunia.
b. Ujung Kulon di Jawa barat, untuk melindungi: badak, buaya, banteng, rusa, babi hutan, merak, dan tumbuhtumbuhan.
c. Sibolangit di Sumatra Utara, untuk melindungi flora asli khas dataran rendah Sumatra Timur antara lain bunga lebah dan bunga bangkai.
d. Pulau Dua di Jawa Barat, untuk melindungi hutan dan berbagai jenis burung.
e. Arjuna Lalijiwa di Jawa Timur, untuk melindungi hutan cemara dan hutan alpina.
f. Cibodas di Jawa Barat untuk melindungi hutan cadangan di daerah basah.
g. Tanjung Pangandaran Jawa Barat, untuk melindungi hutan rusa, banteng, dan babi hutan.
h. Liabo Pauti, di Sumatra Barat, untuk melindungi tumbuh-tumbuhan khas Sumatra Barat dan beberapa macam hewan antara lain siamang dan tapir.
i. Cagar alam di Kalimantan Timur dimaksudkan untuk melindungi berbagai jenis anggrek alam (Orchiaceae). Beberapa jenis anggrek di tempat ini hanya terdapat di Indonesia, misalnya anggrek hitam (Coelogyne pandurata).

Jenis-jenis flora yang dilindungi saat ini antara lain sebagai berikut.
1) Vegetasi hutan musim.
2) Vegetasi dan hutan pegunungan.
3) Vegetasi rawa dan hutan rawa air tawar.
4) Hutan depterocarpaceae tanah rendah.
5) Hutan gambut.
6) Hutan kerangas (health forest). 7) Hutan pantai dan hutan bakau.
8) Hutan cadangan di daerah basah.
9) Berbagai spesies bunga.

2. Pelestarian Hewan atau Fauna Indonesia
Pemerintah menyediakan wilayah untuk dihuni oleh hewan-hewan yang dilindungi agar tetap hidup dan berkembang biak. Wilayah-wilayah perlindungan hewan disebut suaka alam. Suaka alam adalah suatu wilayah yang digunakan untuk perlindungan dan kelestarian lingkungan sebagai tempat hidup flora dan fauna. Suaka alam yang dipakai untuk perlindungan fauna disebut suaka margasatwa. Di tempat ini hewan yang dilindungi dapat hidup bebas dan berkembang biak secara alami. Lingkungan tempat hidupnya dijaga agar tidak rusak. Apabila hewan yang dilindungi itu terlalu banyak, maka hewan tersebut ditangkap dan dijinakkan untuk dimanfaatkan oleh manusia.
Contoh-contoh suaka margasatwa di Indonesia, antara lain sebagai berikut.

  1. a. Buton Utara di Sulawesi Tenggara sebagai suaka margasatwa jenis kuskus, kera Sulawesi, burung maleo, dan berbagai jenis burung, khususnya jenis kakaktua.
  2. b. Lambusango di Sulawesi Tenggara, sebagai suaka margasatwa jenis babi rusa, anoa, dan rusa
  3. c. Pulau Dolok di Papua bagian selatan, sebagai suaka margasatwa berbagai jenis burung, kanguru, dan buaya
  4. d. Gunung Leuser di Aceh letaknya di bagian selatan Gunung Leuser. Jenis hewan yang dilindungi di tempat ini antara lain gajah, harimau loreng, harimau tutul, mawas, beruang madu, badak Sumatra bercula dua, buaya, dan burung rangkok. Di cagar alam Gunung Leuser tercatat 105 jenis hewan menyusui, 75 jenis hewan melata dan 20 jenis hewan amfibi, serta berbagai jenis burung.
  5. e. Meru Betiri di Jawa Timur yang masih merupakan hutan asli sejak zaman dahulu di Jawa. Di tempat ini dilindungi harimau loreng Jawa yang diperkirakan hanya tinggal beberapa ekor, termasuk 29 jenis hewan menyusui, sekitar 180 jenis burung, di pantainya terdapat tempat penyu bertelur.
  6. f. Pulau Semana dan Pulau Sangolaki di Kalimantan Timur sebagai suaka margasatwa, khususnya tempat bertelurnya penyu laut hijau. Di kedua pulau kecil ini sebelum dinyatakan sebagai suaka margasatwa dapat diambil sekitar 2 juta telur penyu setiap tahun.
  7. g. Ulu Sembakung di Kalimantan Timur berbatasan dengan Sabah. Di tempat ini dilindungi hewan mawas, beruang, dan gajah Kalimantan.
  8. h. Gunung Watumahae di Sulawesi Tenggara, sebagai suaka margasatwa jenis hewan anoa, burung maleo, rusa, dan berbagai jenis burung, khususnya jenis kakaktua.
  9. i. Ujung Kulon di Jawa Barat, tempat ini khusus melindungi Badak Jawa bercula satu. Jenis badak ini tinggal satu-satunya di dunia. Pada tahun 1990 diperkirakan tinggal 60 ekor. Hewan lain yang hidup di sini adalah harimau tutul, harimau loreng, banteng, anjing hutan, kera, pelanduk, buaya, sekitar 200 jenis burung, dan ular piton.
  10. j. Pulau Komodo di sebelah barat Pulau Flores Nusa Tenggara Timur. Pulau ini sangat terkenal di dunia karena didiami biawak dan komodo. Hewan ini dinilai sebagai sisa-sisa hewan reptil di zaman purba.
  11. k. Way Kambas di Lampung, tempat ini terkenal sebagai perlindungan gajah. Di sini juga dipakai sebagai pusat penjinakkan dan pelatihan gajah agar dapat dimanfaatkan untuk pertunjukkan dan patroli keamanan. Fauna lain yang dilindungi di tempat ini adalah tapir, beruang madu, siamang, kijang, kerbau liar, buaya, dan biawak, serta berbagai jenis burung.
  12. l. Pulau Rambut, di teluk Jakarta. Pulau ini ditetapkan sebagai suaka margasatwa, untuk perlindungan berbagai jenis burung. Jenis-jenis burung penghuni pohon ini antara lain kutilang, kepodang, jalak, perkutut, dan prenjak. Pulau ini dikhususkan untuk melindungi burung-burung penggembira untuk berkembang biak.
  13. m. Kutai di Kalimantan Timur, sebagai suaka margasatwa untuk hewan mawas dan banteng.
  14. n. Perairan Sungai Mahakam, di Kalimantan Timur, sebagai suaka margasatwa khususnya untuk ikan pesut.

Dari buku BSE GEOGRAFI 2 Untuk SMA/MA Kelas XI, Danang Endarto, dkk

Bahasa Indonesia Kelas XI smt 1 Oktober 3, 2009

Posted by adiwidia in Uncategorized.
Tags:
add a comment

Materi Bahasa Indonesia kelas XI Smt 1

1.1 Membaca Intensif

Teks meliputi sejumlah paragraf. Paragraf-paragraf tersebut memiliki gagasan pokok yang didukung gagasan-gagasan pendukung. Jenis paragraf yang gagasan pokoknya terletak di akhir paragraf disebut induktif. Jenis paragraf yang gagasan pokoknya terletak di awal paragraf disebut deduktif. Pada bab ini Anda akan mempelajari kedua jenis paragraf tersebut.

1.1.1 Menemukan Gagasan Utama Melalui Membaca Intensif

Sebuah paragraf memiliki satu kalimat topik dan beberapa kalimat penjelas. Kalimat topik berisi gagasan utama dan kalimat penjelas berisi gagasan penjelas.

Bacalah teks berikut ini dengan saksama dan temukan gagasan utamanya!

Max Havelaar dari Bantul

Miroto dan seniman Yogya mementaskan Ketoprak Gempa. Bersatu karena musibah gempa.

Sederet properti terpajang di panggung. Sepasang kursi demang, tenda, dan gapura dengan tongkat-tongkat ramping, juga lampu-lampu yang tak menyorot secara datar seperti dalam pertunjukan ketoprak. Dekorasi panggung itu lebih lumrah untuk pementasan teater modern daripada ketoprak.

Di panggung juga tak ada tari tradisional seperti gambyong.Yang muncul adalah sebuah koreografi tari ciptaan Miroto. Perang salto yang biasanya muncul dalam ketoprak tradisional pun digantikan oleh gerak penari secara kolosal.

Ya, inilah Ketoprak Gempa garapan Forum Seniman Gumregah. Modelnya tetap ketoprak tradisional Mataraman. Ada pelawak, ada tokoh bupati atau demang, juga ada penari. Hanya, kemasan panggung, tata lampu, dan tarinya tak mengikuti pakem.

“Tariannya saya cuplik dari banyak koreografi saya sebelumnya, seperti Dancing Shadow dan dari film Opera Jawa,” tutur Miroto, yang menjadi produser pertunjukan ini. “Saya kira ini tafsir baru seni tradisi ketoprak,” ucapnya.

Lakon ketoprak ini diambil dari buku Max Havelaar karya Multatuli (1859) yang mengambil latar belakang masyarakat Lebak, Banten Selatan. Saijah dan Adinda tokohnya. Mereka ingin hidup aman dan tenteram. Tapi harapan itu tak pernah kesampaian. Tindakan sewenang-wenang penguasa dan anak buahnya menghapus impian itu. Dua sejoli ini akhirnya mati oleh keserakahan dan kesewenang-wenangan.

Tawa lepas sekitar 500 penonton di Gedung Societet Yogyakarta, pekan lalu, muncul setelah pelawak Marwoto Kawer dan Susilo Nugroho (pendiri Teater Gandrik), juga Yani Sapto Hoedojo, yang menjadi Nyonya Belanda dari Banyumas, menghidupkan panggung. Selain mereka, ada pula pemain ketoprak kawakan, Widayat, yang berperan sebagai bupati. Juga Sundari, sang istri, yang luwes dan kenes.

Marwoto dan Susilo memerankan tokoh yang selalu kritis terhadap keadaan. Masing-masing memerankan Multatuli dan Max Havelaar, yang selalu bersitegang tentang siapa yang bisa mengubah hidup rakyat: penguasa atau penulis. Juga tentang bagaimana penguasa harus bersikap. “Ayo, ayo podo toh-tohan (ayo taruhan). Sing iso (yang bisa) mengubah keadaan Max Havelaar utowo Multatuli?” ucap Marwoto.

Ketoprak Gempa, yang dipentaskan di Solo dua pekan lalu, serta Yogyakarta pekan lalu, dan Jakarta pekan ini, terbentuk secara tak sengaja. Sebagian besar pemain dan pengrawit adalah korban bencana gempa. Rumah mereka roboh. Bahkan sampai kini masih ada yang hidup di tenda. Tapi mereka segera bangkit. Secara bergiliran mereka pentas berkeliling, menghibur sesama korban gempa di Bantul.

Suatu hari, Miroto mengunjungi teman-temannya itu. Melihat keadaan mereka, dia tidak tega. Dia pun berinisiatif ingin mengalihkan undangan pentas Panji Penumbra dari Kedutaan Belanda kepada mereka. Gayung bersambut, Kedutaan sepakat dan senimannya sanggup bergabung. “Saya bersyukur rumah saya masih utuh. Berkumpulnya para seniman ini wujud syukur saya,” ujarnya.

Jadilah pentas rekonsiliasi seniman di panggung ketoprak. Mereka datang dari kelompok yang berbeda, bahkan berseberangan prinsip. Mereka yang dulu sikut-sikutan, di sini berangkulan. “Saya bersyukur. Berkat gempa, semua kembali penuh canda,” tutur Bondan Nusantara, seorang pemain ketoprak.

“Dan pertunjukan mereka bagus dan sangat teatrikal,” kata budayawan Sindhunata, yang merasa terhibur oleh pertunjukan itu. LN Idayanie (Yogyakarta)

Sumber: Tempo, 25 September – 1 Oktober 2006

1.1.2 Paragraf Induktif dan Deduktif

Perhatikan kutipan teks berikut ini!

Sederet properti terpajang di panggung. Sepasang kursi demang, tenda, dan gapura dengan tongkat-tongkat ramping, juga lampu-lampu yang tak menyorot secara datar seperti dalam pertunjukan ketoprak. Dekorasi panggung itu lebih lumrah untuk pentas

teater modern daripada ketoprak.

Paragraf di atas terdiri atas 1 kalimat topik dan 2 kalimat penjelas. Kalimat (1) dan (2) adalah kalimat penjelas dan kalimat (3) adalah kalimat topik. Maka, gagasan utama paragraf di atas adalah kalimat (3). Karena gagasan utama paragraf terletak di akhir paragraf, paragraf tersebut tergolong paragraf induktif.

Perhatikan kutipan teks berikut ini!

Lakon ketoprak ini diambil dari buku Max Havelaar karya Multatuli (1859) yang mengambil latar belakang masyarakat Lebak, Banten Selatan. Saijah dan Adinda tokohnya. Mereka ingin hidup aman dan tenteram. Tapi harapan itu tak pernah kesampaian. Tindakan sewenang-wenang penguasa dan anak buahnya menghapus impian itu. Dua sejoli ini akhirnya mati oleh keserakahan dan kesewenang-wenangan.

Paragraf tersebut terdiri atas 1 kalimat topik dan 2 kalimat penjelas. Kalimat (1) adalah kalimat topik dan kalimat (2) dan (3) adalah kalimat penjelas. Maka, gagasan utama paragraf tersebut adalah kalimat (1). Karena gagasan utama paragraf terletak di awal paragraf, paragraf tersebut tergolong paragraf deduktif.

1.2 Membaca Berita

Membacakan berita dapat menjadi suatu pengalaman yang menyenangkan bagi sang pembaca dan pendengarnya jika pembacaan dilakukan dengan baik. Untuk dapat menjadi pembaca berita yang baik perlu berlatih:

1. lafal dan pengucapan yang jelas;

2. intonasi yang benar;

3. sikap yang benar.

Dalam menyampaikan berita, intonasi dapat menimbulkan bermacam arti. Keras lambatnya suara atau pengubahan nada, dan cepat lambatnya pembacaan dapat digunakan sebagai penegasan, peralihan waktu, perubahan suasana, maupun perenungan.

Dalam membacakan berita hendaknya diutamakan pelafalan yang tepat. Gerak-gerik terbatas pada gerak tangan, lengan atau ke-pala. Segala gerak tersebut lebih banyak bersifat mengisyaratkan (bernilai sugestif) dan jangan berlebihan.

Untuk menimbulkan suasana khusus yang diperlukan dalam pembacaan, suara lebih efektif dengan didukung oleh ekspresi wajah. Air muka (mimik) dan alunan suara yang pas lebih efektif untuk meningkatkan suasana. Senyum atau kerutan kening juga dapat membantu penafsiran teks. Perhatikan pula kontak pandangan Anda dengan pendengar (penonton), terutama bila membacakan berita melalui media televisi atau kontak langsung dengan pendengarnya.

Jadi, membaca berita adalah menyampaikan suatu informasi atau berita melalui membaca teks berita dengan lafal, intonasi, dan sikap secara benar.

diambil dari buku BSE : “Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA/MA Kelas XI Program IPA dan IPS”, Euis Sulastri, dkk.

Materi Bahasa Indonesia kelas XI Smt 1

(diperuntukan bagi warga belajar penyetaraan SMA “Adiwidia”)

2.1 Membaca dan Menganalisis Hikayat

Pernahkah Anda mendengar Hikayat Hang Tuah? Hikayat Hang Tuah merupakan salah satu bentuk karya sastra lama pada Angkatan Melayu Klasik. Selain hikayat, ada bentuk lain seperti cerita panji, cerita berbingkai, tambo, epos, dan dongeng (fabel, legenda, mite, sage, dan parabel).

2.1.1 Apresiasi Hikayat Hang Tuah

Hikayat Hang Tuah merupakan bentuk hikayat Melayu asli dan tidak diketahui dengan pasti siapa pengarangnya. Sikap kepahlawanan Hang Tuah yang tak tertandingi menyebabkan hikayat tersebut tetap berkembang dan hidup di masyarakat. Namanya harum dan menjadi teladan bagi putra-putri bangsa. Lama-kelamaan orang menganggapnya bukan sekadar pahlawan biasa tetapi dianggap seorang titisan dewa yang disanjung-sanjung karena kesaktiannya. Hang Tuah lahir dari keluarga biasa dekat Sungai Duyung di Tanah Malaka. Ayahnya bernama Hang Mahmud dan Ibunya Dang Merduwati. Karena kesulitan hidupnya, mereka pindah ke Pulau Bintan, tempat raja bersemayam, dengan harapan mendapat rezeki di situ. Mereka membuka warung dan hidup sangat sederhana.

Semua sahabat Hang Tuah berani. Mereka itu adalah Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu. Pernah suatu ketika mereka berlima pergi berlayar. Di tengah lautan dihadang oleh gerombolan perampok yang banyak sekali. Hang Tuah menggunakan taktik, membawa mereka ke darat. Di sana mereka melakukan perlawanan. Sepuluh perampok mereka tewaskan, sedangkan yang lain melarikan diri. Dari beberapa orang yang dapat ditawan, mereka mengaku dari daerah Siantan dan Jemaja atas perintah Gajah Mada di Majapahit. Sebenarnya mereka diperintahkan untuk menyerang Palembang tetapi angin kencang membawa mereka tersesat di Melaka. Akhirnya, keberanian Hang Tuah dan kawan-kawannya sampai juga kepada raja sehingga raja berkenan kepada mereka. Suatu ketika ada orang yang mengamuk di pasar. Orang-orang lari ketakutan. Hang Tuah jugalah yang dapat membunuh orang itu. Hang Tuah lalu diangkat menjadi biduan istana (pelayan raja). Saat itu dia diminta menyerang ke Palembang yang diduduki orang Siantan dan Jemala. Hang Tuah sukses, lalu dia diangkat menjadi Laksamana. Berkali-kali Hang Tuah diutus ke luar negeri; ke Tiongkok, Rum, Majapahit, dan dia pernah pula naik haji. Akhir hayatnya, Hang Tuah berkhalwat di Tanjung Jingara.

Di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan nama Hang Tuah dan Hang Lekir diabadikan sebagai nama jalan. Hal itu merupakan wujud dari melegendanya nama mereka.

2.1.2 Hikayat Hang Tua

Bacalah kutipan Hikayat Hang Tuah berikut ini!

Hang Tua Diutus ke Majapahit

Raja Melaka mengutus Hang Tuah (Laksamana) mempersembahkan surat dan bingkisan ke hadapan raja Majapahit, mertua baginda.

Maka Laksamana pun menjunjung duli. Maka dianugerahi persalin dan emas sepuluh kati dan kain baju dua peti. Maka, Laksamana pun bermohonlah kepada Bendahara dan Temenggung, lalu berjalan keluar diiringkan oleh Hang Jebat dan Kesturi serta mengirimkan surat dan bingkisan, lalu turun ke perahu. Setelah sudah datang ke perahu, maka surat dan bingkisan itu pun disambut oleh Laksamana, lalu naik ke atas “Mendam Berahi”. Maka Laksamana pun berlayar. Beberapa lamanya berlayar itu, maka sampailah ke Tuban. Maka Rangga dan Barit seketika pun berjalan naik ke Majapahit.

Beberapa lamanya maka sampailah ke Majapahit. Maka dipersembahkan Patih Gajah Mada kepada Batara Majapahit, “Ya, Tuanku, utusan daripada anakanda Ratu Melaka datang bersamasama dengan Rangga dan Barit Ketika; Laksamana panglimanya.” Setelah Sri Batara mendengar sembah Patih Gajah Mada demikian itu, maka titah Sri Batara, “Jika demikian, segeralah Patih berlengkap.”

Maka sembah Patih Gajah Mada, “Ya Tuanku, adapun patik dengar Laksamana itu terlalu sekali beraninya, tiada berlawan pada tanah Melayu itu. Jikalau sekiranya dapat patik hendak cobakan beraninya itu.”

Maka titah Sri Batara, “Mana yang berkenan pada Patih, kerjakanlah!”

Maka Patih pun menyembah lalu keluar mengerahkan segala pegawai dan priyayi akan menyambut surat itu. Setelah sudah lengkap, maka pergilah Patih dengan segala bunyi-bunyian. Hatta maka sampailah ke Tuban. Maka Laksamana dan Hang Jebat dan Hang Kesturi pun berlengkap memakai pakaian yang indah-indah. Maka surat dan bingkisan itu pun dinaikkan oleh Laksamana ke atas gajah. Maka Laksamana dan Hang Jebat dan Hang Kesturi pun naik kuda. Maka Rangga dan Barit Ketika pun naik kuda mengiringkan Laksmana. Maka di hadapan Laksamana orang berjalan memikul pedang berikat empat bilah berhulukan emas dan tumbak pengawinanbersampakemas empat puluh bilah dan lembing bersampakkan emas bertanam pudi yang merah empat puluh rangkap. Maka segala bunyi-bunyian pun dipalu orang terlalu ramai. Maka surat dan bingkisan itu pun diarak oranglah ke Majapahit.

Hatta beberapa lamanya berjalan itu, maka sampailah. Maka Laksamana dan Hang Jebat dan Hang Kesturi pun turun dari atas kuda, berjalan di atas gajah. Maka Rangga pun berjalan serta berkata, “Mengapa maka Laksamana turun dari atas kuda itu? Baik Laksamana naik kuda!”

Maka kata Laksamana, “Hai Rangga, adapun adat segala hulubalang Melayu itu, apabila nama tuannya dibawa pada sebuah negeri itu, maka hendaklah sangat-sangat dihormatkan dan takutkan nama tuannya itu. Jikalau sesuatu peri surat nama tuannya itu, sehingga mati sudahlah; yang memberi aib itu sekali-kali tiada ia mau, dengan karena negeri Majapahit itu negeri besar.” Setelah Rangga mendengar kata Laksamana demikian itu, maka ia pun diam, lalu turun berjalan sama-sama dengan Laksamana. Maka surat dan bingkisan itu pun diarak masuk ke dalam kota, terlalu ramai orang melihat terlalu penuh sesak sepanjang jalan dan pasar. Maka kata Patih Gajah Mada pada penjurit dua ratus itu, “Hai, kamu sekalian, pergilah kamu mengamuk dihadapan utusan itu, tetapi engkau mengamuk itu jangan bersungguh-sungguh, sekadar coba kamu beraninya. Jika ia lari, gulung olehmu sekali. Jika ia bertahan, kamu sekalian menyimpang, tetapi barang orang kita, mana yang terlintang bunuh olehmu sekali, supaya main kita jangan diketahui.”

Maka penjurit dua ratus itu pun menyembah, lalu pergi ke tengah pasar. Waktu itu sedang ramai orang di pasar, melihat orang mengarak surat itu. Maka penjurit itu pun berlari-lari sambil menghunus kerisnya, lalu mengamuk di tengah pasar itu, barang yang terlintang dibunuhnya. Maka orang di pasar itu gempar, berlari-lari kesana kemari, tiada berketahuan. Maka penjurit dua ratus itu pun datanglah ke hadapan Laksamana; dan anak bayi priayi di atas kuda itu pun terkejut melihat orang mengamuk itu terlalu banyak, tiada terkembali lagi. Maka barang mana yang ditempuhnya, habis pecah. Maka segala pegawai itu pun habis lari beterjunan dari atas kudanya, lalu berlari masuk kampung orang. Maka segala orang yang memalu bunyi-bunyian itu pun terkejutlah, habis lari naik ke atas kedai, ada yang lari ke belakang Laksamana. Setelah dilihat oleh Laksamana orang gempar itu tiada berketahuan lakunya, maka segala orang yang di hadapan Laksamana itu pun habis lari. Maka prajurit yang dua ratus itu pun kelihatanlah. Dilihat orang yang mengamuk itu terlalu banyak, seperti ribut datangnya, tiada berkeputusan. Maka Laksamana pun tersenyum-senyum seraya memegang hulu keris panjangnya itu. Maka Hang Jebar, Hang Kesturi pun tersenyum-senyum, seraya memegang hulu kerisnya, berjalan dari kiri kanan Laksamana. Maka Rangga dan Barit Ketika pun terkejut, disangkanya orang yang mengamuk itu bersungguh-sungguh. Maka Rangga pun segera menghunus kerisnya, seraya berkata, “Hai Laksamana, ingatingat, karena orang yang mengamuk itu terlalu banyak.”

Maka sahut Laksamana seraya memengkis, katanya,”Cih, mengapa pula begitu, bukan orangnya yang hendak digertak-gertak itu.”

Maka Laksamana dan Hang Jebat, Hang Kesturi pun berjalanlah seorang orang Melayu pun tiada yang undur dan tiada bergerak. Maka kata Laksamana, “Hai segala tuan-tuan sekalian, seorang pun jangan kamu undur dan bergerak. Jika kamu undur, sekarang ini juga kupenggal leher kamu!”

Maka dilihat oleh Barit Ketika, orang mengamuk banyak datang seperti belalang itu, maka Barit Ketika pun segera undur ke bela-kang gajah itu. Maka prajurit yang dua ratus itu pun berbagi tiga, menyimpang ke kanan dan ke kiri dan ke hadapan Laksamana mengamuk itu, ke belakang Laksamana. Maka Laksamana pun berjalan juga di hadapan gajah itu. Maka prajurit itu pun berbalik pula dari belakang Laksamana. Maka Barit Ketika pun lari ke hadapan berdiri di belakang Laksamana itu. Maka, Laksamana pun tersenyum-senyum seraya berkata, “Cih, mengapa begitu, bukan orangnya yang hendak digertak gerantang itu.”

Maka, Laksamana dan Hang Jebat, Hang Kesturi pun berjalan juga, dengan segala orangnya dan tiada diindahkannya orang mengamuk itu. Maka Rangga, dan Barit Ketika pun heran melihat berani Laksamana dan segala Melayu-melayu itu, setelah dilihat oleh penjurit dua ratus itu, Laksamana dan segala orangnya tiada bergerak dan tiada diindahkannya lawan itu, maka prajurit itu pun mengamuk pula ke belakang Laksamana. Seketika lagi datang pula prajurit itu mengamuk ke hadapan Laksamana, barang yang terlintang dibunuhnya dengan tempik soraknya, katanya, “Bunuhlah akan segala Melayu itu,” seraya mengusir ke sana kemari barang yang terlintang dibunuhnya. Maka prajurit dua ratus itu pun bersungguh-sungguh rupanya.

Maka, sahut Laksamana, “Jika sebanyak ini prajurit Majapahit, tiada, kuindahkan; tambahkan sebanyak ini lagi, pun tiada aku takut dan tiada aku indahkan. Jikalau luka barang seorang saja akan Melayu ini, maka negeri Majapahit ini pun habislah aku binasakan, serta Patih Gajah Mada pun aku bunuh,” serta ditendangnya bumi tiga kali. Maka bumi pun bergerak-gerak. Maka, Laksamana pun memengkis pula, katanya “Cih, tahanlah bekas tanganku baik-baik.”

Maka, prajurit itu pun sekonyong-konyong lari, tiada berketahuan perginya. Maka, surat dan bingkisan itu pun sampai-lah ke peseban. Maka surat itu pun disambut oleh Raden Aria, lalu dibacanya di hadapan Sri Batara. Maka, Laksamana dan Hang Jebat, Hang Kesturi pun naik ke peseban. Maka segala bingkisan itu pun disambut oranglah. Maka, titah Sri Batara, “Hai Laksamana, kita pun hendak mengutus ke Melaka, menyuruh menyambut anak kita Ratu Malaka, karena kita pun terlalu amat rindu dendam akan anak kita. Di dalam pada itu pun yang kita harap akan membawa anak kita kedua itu ke Majapahit ini hanyalah Laksamana.”

Maka, sembah Laksamana, “Ya Tuanku, benarlah seperti titah andika Batara itu.”

Maka Batara pun memberi persalin akan Laksamana dan Hang Jebat, Hang Kesturi dengan selengkap pakaian. Maka titah Sri Batara,

“Hai Laksamana, duduklah hampir kampong Patih Gajah Mada.”

Maka sembah Laksamana, “Daulat tuanku, mana titah patik junjung.”

Maka Sri Batara pun berangkat masuk. Maka Patih Gajah Mada, dan Laksamana pun bermohonlah, lalu keluar kembali ke rumahnya. Maka akan Laksamana pun diberi tempat oleh Patih Gajah Mada hampir kampungnya.

2.2 Resensi

Anda ingin mendapatkan informasi buku terbaru? Anda tak perlu membelinya, Anda cukup membaca resensi buku. Dengan membaca resensi, Anda mendapat ulasan sebuah buku.

2.2.1 Apakah Resensi Itu

Istilah resensi berasal dari bahasa Belanda, resentie, yang berarti kupasan atau pembahasan. Jadi, resensi adalah kupasan atau pembahasan tentang buku, film, atau drama yang biasanya disiarkan melalui media massa, seperti surat kabar atau majalah. Pada Kamus Sinonim Bahasa Indonesia disebutkan bahwa resensi adalah pertimbangan, pembicaraan, atau ulasan buku. Akhir-akhir ini, resensi buku lebih dikenal dengan istilah timbangan buku.

Tujuan resensi adalah memberi informasi kepada masyarakat akan kehadiran suatu buku, apakah ada hal yang baru dan penting atau hanya sekadar mengubah buku yang sudah ada. Kelebihan dan kekurangan buku adalah objek resensi, tetapi pengungkapannya haruslah merupakan penilaian objektif dan bukan menurut selera pribadi si pembuat resensi. Umumnya, di akhir ringkasan terdapat nilai-nilai yang dapat diambil hikmahnya.

Pembuat resensi disebut resensator. Sebelum membuat resensi, resensator harus membaca buku itu terlebih dahulu. Sebaiknya, resensator memiliki pengetahuan yang memadai, terutama yang berhubungan dengan isi buku yang akan diresensi.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam penyusunan sebuah resensi.

1 . Ada data buku, meliputi nama pengarang, penerbit, tahun terbit, dan tebal buku.

2. Pendahuluannya berisi perbandingan dengan karya sebelumnya, biografi pengarang, atau hal yang berhubungan dengan tema atau isi.

3. Ada ulasan singkat terhadap buku tersebut.

4. Harus bermanfaat dan kepada siapa manfaat itu ditujukan.

2.2.2 Membaca Resensi iksi

Bacalah resensi kumpulan cerpen berikut dan cermati bagianbagiannya!

Membuka elubung Bangsa an Mela u

Judul buku : Pahlawan dan Cerita Lainya, Mozaik Melayu Modern.

Judul asli : Heroes and Other Stories

Penulis : Karim Raslan

Penerbit : Yayasan Obor Indonesia

Tahun : 2006

Tebal : 164 halaman

Kumpulan cerita pendek Karim Raslan menelanjangi kehidupan bangsawan Malaysia. Gaya bahasanya lugas, tajam, bahkan sarkastis.

Puluhan tahun ia menggenggam rahasia itu. Segala tentang dia luar biasa cerdas, tampan, lajang, dan santun kecuali, satu hal: kakinya. Satu peristiwa tragis terjadi, sesudah itu sang kaki lumpuh. Nazrin, nama lelaki itu. Ia masih 20-an tahun ketika peristiwa itu terjadi, 30 Mei 1969. Di Penang, waktu ia menemani seorang utusan perdana menteri, aksi kekerasan meletup. Tulang kakinya remuk, sedangkan sang utusan menghilang, menyelamatkan diri, meninggalkan teman yang nestapa.

Kisah bangsawan pengecut yang menjaga citra sebagai lelaki heroik ini ada dalam Para Pahlawan, cerita pendek karya sastrawan- kolumnis Malaysia, Karim Raslan. Sosok yang oleh pengamat Nirwan Arsuka bisa dibandingkan dengan Idrus, penulis Indonesia yang melukiskan zaman merdeka dengan gaya realisme dan sarkasme pada 1950-an.

Karim memang bercerita tanpa selubung. Dalam Para Pahlawan, ia membongkar rahasia di ujung cerita: Nazrin dan si bangsawan bertemu tanpa rencana melalui orang ketiga, yakni putri sang bangsawan, pengagum berat ayahnya sendiri. Dalam cerita lainnya, Tetangga Sebelah, ia menulis tentang Datin Sarina. Ia istri bangsawan yang haus kekuasaan dan (nyaris) jatuh cinta pada tetangga barunya yang rupawan. Sampai akhirnya ia menjumpai pujaannya bercinta dengan seorang banci.

Para Pahlawan adalah satu di antara kumpulan cerita pendek Karim Raslan, Pahlawan dan Cerita Lainnya (terjemahan dari Heroes and Other Stories). Antologi yang memuat delapan kisah: Yang Terkasih, Para Pahlawan, Makan Siang Tahun Baru. Di Jalan Kia Peng, Warisan, Puan Gundik, Sara dan Perkawinan, Ayo Ke Timur, dan Tetangga Sebelah.

Pahlawan dan Cerita Lainnya bercerita tentang banyak aspek kehidupan para bangsawan – semuanya menggiring ke satu titik:hipokrisi aristokrat Melayu. Sosok-sosok yang digambarkannya sering bermain golf atau polo di klub, menenteng tas Louis Vuitton sembari tangan kirinya menjepit rokok Dunhill, dan senang membanggakan gelar Datuk dan Datin. Di balik aristokrasi ada kegandrungan akan seks, uang, dan kuasa.

Karim Raslan memang memiliki ciri khas dalam karya-karyanya, tapi sayangnya ia tak begitu populer di Semenanjung Malaysia. “Tulisannya berbahasa Inggris tinggi dan tak dimengerti orang Malaysia kebanyakan,” kata Abdul Razak dari Dewan Bahasa Pustaka Malaysia. Selama ini Karim lebih dikenal sebagai kolumnis. Kumpulan tulisan kolomnya telah dibukukan menjadi Ceritalah: Malaysia in Translation yang menjadi buku laris di Malaysia. Juga Journeys Through Southeast Asia: Ceritalah 2.

“Saya menulis apa yang saya alami, lihat, dan temukan dalam riset. Saya hanya ingin jujur,” kata Karim. Karim Raslan dilahirkan pada 2 Agustus 1963 di Petaling Jaya, Kuala Lumpur, Malaysia. Ia memang bercerita di luar arus utama penulis Malaysia. Mungkin pengalamannya tinggal 16 tahun di negara ibunya (Inggris) memberi pengaruh dalam gayanya yang blak-blakan. Ia mengambil pendidikan hukum di Inggris dan menjadi pengacara berlidah setajam kritiknya di harian-harian berbahasa Cina dan Inggris di Malaysia yang rutin ditulisnya.

Sejumlah cerita pendek Karim sekarang bisa dibaca dalam Bahasa Indonesia. Yang sedikit mengganggu para pembacanya di sini adalah singkatan-singkatan Malaysia yang acap kali muncul tanpa keterangan apa pun. (Istiqomatul Hayati)

Sumber: Tempo, 25 September-Oktober 2006.

2.2.3 Menulis Resensi Buku iksi

Apakah Anda suka membeli buku-buku fiksi, seperti novel, kumpulan cerpen, atau kumpulan puisi? Tahukah Anda bahwa bukubuku itu dapat menambah uang saku Anda?

Caranya mudah sekali. Anda cukup meresensi buku-buku yang sudah Anda baca dan mengirimnya ke surat kabar atau majalah. Jika resensi dimuat, Anda akan memperoleh honor yang lumayan sehingga dapat menambah uang saku. Tetapi, Anda tidak boleh asal meresensi buku. Buku yang diresensi harus memiliki keunikan, mungkin dari segi pengarangya atau isi buku.

Di atas Anda telah membaca dan mencermati sebuah resensi terhadap buku kumpulan cerpen karya Karim Raslan. Sebelum Anda meresensi perhatikan hal-hal berikut.

1. Pahamilah isi buku dan informasi tentang penulisnya!

2. Pahamilah kekurangan dan kelemahan buku!

3. Pahamilah manfaat yang diperoleh setelah membaca buku yang Anda resensi!

diambil dari buku BSE : “Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA/MA Kelas XI Program IPA dan IPS”, Euis Sulastri, dkk

Hello world! Oktober 3, 2009

Posted by adiwidia in Uncategorized.
1 comment so far

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.